Oh Diana.

“Ah terlambat”, ujarku dalam hati. Bel kereta api penanda bahwa palang pembatas akan segera ditutup kini berbunyi. Beberapa orang disebelahku nekat berlari cepat untuk melewati palang pembatas. Meski sebenarnya belum terdengar suara kereta akan melintas, tapi tetap toh berbahaya.

“Begitulah perilaku orang yang belum pernah sekarat”, gumamku pelan.

Belum lagi kali ini kereta tampak melintas lebih cepat dari hari hari sebelumnya. Wajah – wajah menahan kantuk sambil berdiri sekilas tampak. Pria, wanita, tua, dewasa, bercampur di dalam gerbong – gerbong beriringan menuju tempat yang sama, untuk kemudian mereka memecah.

Kembali kuingat isi gerbong kereta. Ada diantara mereka berpakaian rapi, ada pula yang memakai sendal jepit. Begitu beragam manusia dalam satu gerbong, begitu banyak pula cerita kami di gerbong. Cerita yang masih bisa aku ingat dengan jelas seperti tulisan timbul di sampul buku mahal untuk balita. Ingatan itu seperti bisa kuraba, bahkan kucium aromanya. Masih ingat bagaimana Aku dan Diana berdesakan tak sengaja di gerbong menuju istana. Saling berkenalan, berkencan, hingga akhirnya menikah. Menikah untuk 12 tahun lamanya.

Sayup – sayup bel palang kereta menaik kini berbunyi, hingga meredam, dan berganti dengan suara klakson mobil motor terburu buru acuh tak acuh tak sabar. Kembali ku perhatikan kiri kanan, memastikan kali ini tidak ada lagi kereta yang lewat, meski sudah tak ada lagi palang yang menghalang. Hei, nyawa hanya ada satu, bisa jadi si petugas palang pun terlarut dalam kolase lamunan, bukan?

Setelah ku pastikan aman, menyebrang, dan ku lanjutkan lari kemudian.

Aku begitu menyukai berlari, terlebih di pagi. Berlarian memacu kaki, berbalapan dengan matahari. Entah kenapa, berlari seolah membuatku merasa lebih lega daripada sebelumnya. Lari dan tidur adalah kombinasi sempurna bagiku, agar berpikir lebih tenang dan brilian kemudian. Tapi sayang, lari lariku beberapa minggu terakhir begitu berbeda.

 

Sebegitu sulitnya kah abai akan Diana?

 

Apabila sebelumnya, aku terbiasa berlari tenang, diikuti iringan lagu yang kencang. Kini napasku begitu jelas terdengar. Meski volume mencapai batas, pikiranku masih mengawang, sulit abai akan Diana. Bahkan Diana juga muncul dalam mimpi. Kombinasi lari dan tidur, sudah puluhan kalinya kini gagal. Gagal membuatku tak lagi gelisah, dan tak lagi percaya kalimat di ujung buku tulis sekolah, bahwa hari esok akan lebih baik dari hari sebelumnya.

Diana selalu dalam potret yang sama dalam benakku. Dibalut gaun hitam berputar putar, menari dengan senyum lebar. Berulang kali menggoda memainkan rambutnya, menarikku tanpa menyentuh, berbisik tanpa bersuara, hingga sadarku dalam lamunan ketika jatuh air mata.

Diana selalu menyukai menyanyikan lagu riang dalam nuansa berkebalikan. Bisa kau bayangkan bagaimana lagu lagu semacam Best Day of My Life nya American Authors dibuat seperti Firasat nya Marcell atau Raisa. Such a pain. Such a guilty pleasure. Yang membuatku lebih geram adalah ketika melihat ekspresi wajahnya saat bernyanyi yang begitu datar. Entah topeng apa yang dia pakai.

Aku juga masih ingat, bagaimana kami berdua menghabiskan senja bersama di tengah kota. Dari ketinggian, kami hitung satu persatu lampu gedung yang mulai menyala. Berawal dari satu persegi kaca yang berada di lantai tiga teratas, lampu jalanan yang serentak mati nyala bergantian, hingga sinar mobil yang jatuh di jalanan. Kami bicara banyak, dari alotnya menentukan dekorasi rumah, kapan punya anak, hingga dimana nanti kami akan tinggal dan akan apa saat tua tiba. Diana selalu berpikir spesifik, gaya berpikirnya seolah selalu memojokkanku. Tapi itu dia, dia Diana, wanita yang kucinta.

Terlalu asik Diana berputar putar dalam kepalaku, hingga tak terasa, lariku kini harus berhenti. Sayang, kini aku ragu, bisakah aku tidur setelah berlari? Bisakah aku lalui hal yang sama berulang seperti dulu?

 

Nak, jadi? Ibu Diana mengirimkan pesan singkat kepadaku.

 

Aku tidak membalas, melainkan dengan mencoba kembali mengambil napas, dan masuk ke dalam rumah sakit. Bergegas menuju ruangan Diana, sambil ingat pesan almarhum bapak, Seorang militer harus kuat, pandai ambil keputusan. Terlebih berpegang kuat pada putusannya itu. Ucapan adalah janji. Pesan yang disampaikan bapak kepadaku ketika aku membulatkan tekad ingin menjadi pasukan pengaman presiden. Pesan yang sama, yang kembali diingatkan ketika aku menikahi Diana. Bapak bilang, pernikahan itu seperti perang. Perang batin, perang ego, perang yang bisa diselesaikan dengan cara militer. Yang tujuan awalnya pasti sama, sebisa mungkin tidak ada korban jiwa perasaan. Negosiasipun harus didahulukan. Militer atau tidak, untuk Diana, aku harus kuat, selalu pandai ambil keputusan, meski kini aku tidak yakin.

 

Berjalan aku cepat, mencoba sebisa mungkin mengabaikan mata mata yang basah di sepanjang lorong. Aku masuk, hanya ada Ibu dan dokter di kamar Diana. Ibu tak bicara apa-apa, hanya sibuk menahan tangis dan air mata.  Sorot mataku membuat Ibu memelukku, dan keluar dari kamar. Dokterpun bicara.

 

“Sudah siap, mas?” Aku balas mengangguk yakin. Militer harus kuat. Aku harus kuat.

 

“Yang harus mas Imam lakukan adalah menarik alat bantu pernapasan Diana. Dengan demikian, Diana akan—“ Aku mengangkat tangan, memberikan isyarat bahwa aku mengerti apa yang harus aku lakukan. Dokter mengangguk, dan mempersilakan.

Jalan tahun kedua pernikahan kami, Diana sudah terbaring di ICU. Kecelakaan kereta hebat menjadi penyebabnya. Seorang supir taksi bunuh diri membawa Diana di kursi belakang, sengaja memarkirkan kendaraan di atas rel sesaat kereta akan melintas. Supir itu lelah dengan perannya sebagai ayah. Alasan itu yang membuat Diana terbaring tak sadar selama hampir sebelas tahun. Bergantung pada alat bantu pernapasan, dalam paras cantiknya yang tidak pernah pudar, hanya semakin kurus.

Aku berjalan maju mendekati Diana. Lebih lamban dari sebelumnya. Mencium keningnya, membelai rambutnya, dan memainkan ujung jarinya yang kaku.

Tanganku gemetar hebat, ketika memegang selang, alat bantu napas Diana yang terhubung langsung ke paru. Tangan bahkan seluruh tubuhku gemetar hebat, sulit rasanya berdiri. Menarik napas panjang, aku tarik selang, tak lama, Diana kejang.

Diana akan pergi selamanya. Saat tubuhnya bergerak tak beraturan, aku memeluknya. Menenangkan dan meminta maaf.

 

“Diana, maafkan, aku tidak lagi punya uang.”

“Oh, Diana.” lirihku pedih.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Suka-suka Kematian

Kepalaku terasa kosong, sedari tadi aku memengang handphone, mencari hiburan, namun seisi kepalaku terasa kosong. Ku letakkan handphoneku yang tak lagi menghibur. Bersender kepalaku pada sisi kecoklatan sofa yang sudah memudar. Saat ku pandang dia, dirinya masih saja sibuk menundukkan kepala dan mengucapkan banyak terima kasih pada orang-orang yang datang atau hanya sekedar mampir. Bisakah nanti, aku sekuat dirinya?

Wajahnya berseri penuh bahagia. Tak sedikitpun lirih ku lihat di tiap balasan tatapannya. Tubuhnya tidak gemetar atau bahkan meringkuk lemas tak mampu berdiri. Bahkan kebalikannya, sopan mapan dia berdiri menyambut tamu dengan penuh gelora di tiap suaranya. Seperti itukah aku nanti? Telanku dalam-dalam air liur yang membuncah.

Bahkan dari yang aku dengar, sejak awal dia menemani. Melihat segala proses perpisahan yang aku bayangkan saja begitu membuat hatiku berdecit pilu. Bagaimana bisa, nanti aku seperti itu?

Dulu, ya dulu. Mungkin ketika dulu semasa SMP aku masih bisa, dan kenyataannya memang bisa. Ditinggalkan lebih dulu oleh kakek dan nenek bukan semuhrim tidak membuatku sedih lebih-lebih kepikiran seperti ini. Tapi semenjak hari itu, semenjak aku bermimpi kehilangan papah dan mamah, yang membuatku menangis dalam tidur, membuat segalanya berubah. Mimpi yang jauh lebih menakutkan ketika aku sempat bermimpi berenang dengan hiu besar yang siap menelan sehingga membuatku takut mandi, atau bahkan mimpi ketika kita semua mati dalam kiamat.

Sejak hari itu hatiku mejadi jauh lebih lembut. Pelan-pelan malu dan gengsi memeluk dan mengecup itu hilang. Semakin terbayang bila nanti harinya tiba, sekuat apa aku bisa? Pelan-pelan khawatir ini berubah. Tidak lagi aku takut mati, lebih-lebih mati bila aku nanti yang harus kehilangan mereka. Namun mau tidak mau, siap tidak siap, aku harus belajar menjadi lebih kuat dan percaya. Harus dan secepatnya.

Ketika kali ini aku bertanya pada diri sendiri, seberapa banyak, teman-teman sepermainan, saudara, atau bahkan orang lain yang telah menjadi anak yatim, piatu, bahkan yatim piatu? Sering kali bila kabar mereka bersedih tiba hanya muncul iba. Hanya muncul iba yang sesaat datang, seketika keluar rumah mereka lupa pada kematian yang selalu dan sedekat itu mengingatkan. Kematian yang tidak berteriak dari kejauhan, melaikan berbisik pelan terdengar kencang. Sedekat apa sudah, kau, kematian? Sekuat apa sudah, aku, kali ini?

Mengusap wajah dengan kedua tangan, membuka tutup mataku yang mulai berat. Sudah berapa lama aku duduk disini? Detik, menit, hingga jam kadang tidak terasa sama halnya seperti empat tahun lamanya aku merantau. Waktu berjalan tanpa permisi menggunakan pintu keluar masuk seenaknya, sedang dia masih saja berdiri di sebelah sana dengan pose yang terus berulang, menyalami orang yang datang, kemudian mengucapkan selamat jalan.

Aku menghela napas panjang, mengambil handphone, kemudian menelpon. Tiap dering tunggunya membuatku tak sabar, sekali tidak diangkat. Kedua kalinya aku menelpon pun sama saja. Hingga telepon yang ketiga, tidak dapat tersambung. Mungkin saja sibuk, mungkin saja tidak terdengar dering suaranya, mungkin saja memang tangannya kotor karena sesuatu, mungkin saja, apa saja.

Drrt. Handphoneku bergetar, orang yang sama dari tadi aku coba telepon akhirnya menelpon balik.

“Halo, mah?”

Bisa jadi kali ini obrolan terakhir kami. Kapan terakhir, kau menelpon, hanya sekedar menelpon dan berbincang dengan papah mamah? Bisa jadi itu obrolan terakhir kalian. Suka-suka kematian.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

TELOR ANGSA

Hari ini jalanan lebih sepi dari biasanya. Begitu pula dengan ramainya jalanan yang diisi oleh gumaman orang-orang. Hanya sesekali lewat jalan tergesa-gesa langkah pria atau wanita terburu-buru seperti lupa mematikan kompor di rumah. Sesekali pula lewat anak kecil yang memeluk erat badannya sendiri sambil kedinginan, berlari kecil dengan hidung yang memerah.

Kendaraan bermesin dan yang tidak bermesin juga jarang terlihat. Biasanya, pada hari biasanya, jalanan penuh dengan suara keras klakson dan wajah yang tak sabar. Kali ini sepi. Berkali-kali aku cek handphone, mengintip hari dan jam, bukan sabtu atau minggu melainkan rabu, dan waktu sudah jelang dua belas siang. Kemana orang-orang?

Aku yang dari nyaris siang duduk di sini dengan teh hangat jarang dibuat bosan oleh rutinitas orang-orang. Dari menghitung seberapa banyak dari mereka yang memakai kemeja, atau berapa banyak dari mereka yang memakai kacamata, atau lebih banyak mana dari mereka yang memakai baju strip horizontal atau vertikal, masih banyak lagi. Tapi belum juga siang, aku sudah sampai pada batas kebosanan.

Aku berdiri, kali ini aku mencoba kembali ke tempat aku berada tadi pagi. Jika sudah tidak lagi ada yang menarik, biasanya aku akan kembali ke rumah, dan tidur. Tapi aku benar-benar penasaran, kemana orang-orang sibuk itu pagi ini? Kenapa jalanan dibiarkan sepi? Akhirnya dengan decakan malas aku berbalik arah dan mencoba mencari tau, sekian sedikit orang-orang yang melewatiku dari tadi, mereka bergegas ke arah sebaliknya, ke arah sana.

Hanya beberapa langkah ke depan, dadaku ditahan seseorang dengan rambut hanya pada sisi dekat telinganya. “Hmm..” Meruncing matanya melihatku dari ujung topi sampai ujung sepatu.

“Berapa yang sudah kau gadaikan?” Tanyanya buru-buru.

“Siapa kau?” Sambil ku lihat tanda pengenalnya yang terhalang papan kertas di dada kirinya.

“Aha! MARVOS LOHO!” Senyumku garing dan panik.

“Berapa?” Tanyanya tajam.

“Semuanya, termasuk angsa-angsaku di belakang rumah.” Sambilku menelan ludah karena gugup.

“Aha! Marvos Loho!” Ulangnya sambil mengejekku.

“Masih kurang, mungkin kau berpikir menggadaikan keperjakaanmu kepadaku.” Bisikannya membuatku merinding.

“Marvos Loho tidak boleh! Tidak akan! Dan tidak pernah!” Jawabku panik.

“Aha! Marvos Loho!” Terkekeh dia sambil melengos pergi.

Kemarin baru saja aku membeli rumah, kecil memang, tidak menampung untuk dua orang. Tapi angsa-angsa cukup, sedikit kecil pekarangan belakang dibuatnya ramai dengan suara-suara parau sesekali. Pernah sesekali aku berpiki untuk menukar angsa ini dengan uang, atau mungkin telornya. Tapi tidak, aku yang hanya mahir berjualan telor angsa tidak mungkin menerima uang dari hasil menjual dua pasang angsa untuk seumur hidup. Jalan pintas yang menggiurkan, tapi menjebak. Sama seperti Marvos Loho. Penebar hutang yang unggul!

Meski baru pertama kali aku bertemu dengannya, tapi badannya yang kecil serta rambutnya yang semerawut sudah mampus membuatku terintimidasi. “Hutang secara online! Secara online! ONLINE!” Teriaknya beberapa bulan lalu. Membuat para penghutang tidak berotak menjadi gegap gempita. “Berhutang saja, secara online! Besok lusa pindah kota!” Ujar orang-orang. Seolah-olah mereka bisa seberuntung itu lari dari Marvos Loho!

Seorang wanita berambut merah buru-buru menghampiriku, berbisik, “Garandaria, sebelum sore ini, coba ke sana!”

“Untuk apa?” Tanyaku heran.

“Marvos Loho! Marvos Loho selalu lupa jalan ke sana! Ingat! Garandaria! Sebelum sore ini!” Kemudian dia sprint, berlari begitu kencang hingga membuat rambut rontoknya berterbangan.

Apa yang akan aku lakukan? Angsa-angsaku bisa bertahan tanpaku sehari. Lagipula pakan sudah sedia dari pagi. Mungkin aku akan ke Garandaria. Sekarang, menjauh dari Marvos Loho.

Sepanjang jalan aku bertanya-tanya, seperti apa masa kecil Marvos Loho, tempat seperti apa Garandaria? Apa benar ini jalannya? Berlari dari hutang membuatku jengah beberapa kali. Seperti lari di tempat tanpa mengeluarkan keringat. Berpikir sepanjang rel membuatku cepat sampai di Garandaria.

Balon.

Sekeluarnya aku dari kereta, banyak balon yang menyerbu wajahku!

   “Daram daram pam pam pam! Daram daram pam pam pam!

            Selamat datang! Selamat girang!

            Garandaria, Garandaria, tempat kau datangkan senang, lupakan muram.

            Garandaria, Garandaria, kami punya banyak, dari singa terbang hingga rumput goyang!

            Daram daram pam pam pam! Parapam pam dam dam dam!

            Tengok kemari, tengok kesana, kelinci babi, bermacam rupa, tak kau ingat gaya!

            Melipir mari, melipir sana, daging kursi, berulang kali dilempar, pria kekar tak berdaya!

            Daram pam param param param!

            Ini Garandaria, Selamat datang! Selamat girang!”

           

Dari awal dan seterusnya, kurcaci kecil dari Garandaria ini beryanyi terus menerus. Wajahnya seperti dipaksa untuk terus tersenyum, dengan topi pesulap tinggi di kepalanya, dengan putaran-putaran badan khas ujung tumitnya.

Dan ketika mencoba menoleh ke atas, aku terperangah! Balon-balon udara dari kertas bermuculan! Berterbangan dan menurunkan glitter-glitter kemerlap! Bagai kembang api!

Garandaria! Kota sirkus!

Aku berjalan-jalan ke sekeliling Garandaria, melihat-lihat pertunjukkan dengan penuh rasa senang! JAGAL MOTOR JAGAL Apa ini? Keriuhan besar di dalam tenda, penasaran memuncak, dan aku ingin masuk! Tepuk tangan, decak kagum, dan napas orang-orang seakan diambil di dalam sana! Pertunjukkan apa yang mereka mainkan di dalam sana? Apa yang coba mereka jagal?

Ketika penasaran menuntunku masuk ke dalam, aku dimintai bayaran. “Aku… Tidak memiliki uang. Sepeserpun.”’ Ucapku.

“Apa saja meski bukan uang, apa saja.” Algojo depan pintu masuk bermuka masam dan tidak bergeming.

Spontan aku merogoh kantong, dan menemukan satu telor angsa milikku, telor angsa pertama di bulan ini, telor angsa yang keluar dari pantat angsa yang aku beli dari hutang pada Marvos Loho! Berjualan telor angsa! Ide terbaikku tahun lalu.

“Ini.” Kataku miris.

“Kurang, kau pikir cukup? Hanya satu telor? Tidak ada lagi?” Gemertak-gemertak marah giginya terdengar.

Aku geram, berjingkit aku, ketus ku bicara, “Ini telor angsa terbaik sepanjang sungai Rollar! Tanpa garam! Kau sedang menyentuh TELOR ANGSA TERBAIK! Ambil! Atau tidak!”

“Baiklah, masuk.” Sambungnya tanpa jeda sambil membuka tirai.

Tiba di dalam tenda, aku melihat banyak orang yang napasnya terambil! Bagaimana tidak! JAGAL MOTOR JAGAL berarti penjagal berkendara motor dengan kecepatan tinggi memotong-motong kepala dan memisahkannya dari tubuh mereka! Dengan atau tanpa leher!

Sepanjang deru motor di berteriak dan dengan pedang panjang lebar, selebar golok dan sepanjang dua kali samurai, dia berteriak girang sambil menjagal! “JAGAL! MOTOR JAGAL!” Teriaknya.

Orang-orang menonton sambil terkesima! Ada beberapa diantaranya tertawa, menapiskan air mata karena gelak tawanya dengan lembaran uang besar, dengan nilai tertinggi di negara ini. Sedangkan wanita lainnya di sebrang sana yang berglamorkan pita emas hanya bisa tertawa, melihat aksi gila dari JAGAL SI MOTOR JAGAL. Pria satu lagi di sebrangku disibukkan dengan kagumnya yang tidak percaya, betapa cepat penjagal memisahkan kepala dari tubuh mereka! Setelah beres pembantaian itu, mereka bersorak sorai, dengan deru motor yang makin kencang, dan meneriakkan sebuah nama, “MARVOS LOHO! MARVOS LOHO!” Diikuti dengan lemparan uang, bunga, dan perhiasan.

Sontak aku yang melihat kejadian tadi ingin segera keluar dan meminta kembali telor angsa pertamaku di bulan ini. telor terbaik sepanjang sungai Rollar! Belum lagi aku ingin lari dari Marvos Loho! Penjual telor angsa terbaik sepanjang sungai Rollar ingin lari dari penebar hutang secara online sekaligus sang penagih, SANG MARVOS LOHO!

“Baiklah! Kali ini, kali ini, dan hanya untuk hari ini, saya akan memberikan pertunjukkan ekstra!” Gema Marvos Loho diikuti riuh makin nyaring di tenda.

Sedangkan aku masih mencari-cari jalan masuk tadi. Kemana jalan masuk tadi? Kenapa semua begitu bulat tanpa ada jalan keluar atau masuk? Keluar! Keluar! Keluar!!!

“Kali ini, saya akan melompati lingkaran penuh api!” Diikuti dengan gema orang-orang biadab itu dengan teriakan “MARVOS LOHO!”

“Dan satu jagal terakhir, setelah lompatan api! Dengan pedang penuh api! Hahahahaha!” Suasana tenda semakin riuh.

Sedangkan aku sudah menyerah dan duduk tanpa tenaga di dekat pintu masuk. Ya, setidaknya tadi di sini ada pintu masuk.

“Dan untuk pertunjukkan terakhir ini, saya panggilkan! Robar Kaliminenko!” Namaku disebut? Apa? Namaku disebut!

Dua algojo mengangkatku yang lemas tanpa tenaga, penonton melihatku dengan tawa dan beberapa di antaranya jijik. Tubuhku lemas tanpa tenaga. Sedangkan Marvos Loho sudah menyalakan motor, lingkaran api sudah disiapkan, dan aku sudah berlutut siap berhadapan dengannya. Tubuhku sangat lemas, tanpa diikat, aku tidak bisa bergerak. Kepalaku pusing dengan riuhnya orang orang berteriak. Belum lagi pemandangan penuh darah di panggung. Manusia-manusia ratusan tanpa kepala berserakan.

Deru motor melaju, Marvos Loho berhasil melewati lingkaran api. Dan  kini aku sadar kenapa kota begitu sepi. Semuanya berlari dari Marvos Loho, berlari ke Garandaria, untuk bertemu kembali sebentar sebelum dipenggal oleh Marvos Loho.

Sejenak sebelum ajal, aku melihat wanita berambut merah yang kutemui tadi pagi bertepuk tangan dan mengedipkan mata di kursi paling atas. Kepalaku penuh dengan telor angsa, sampai akhirnya buyar karena Marvos Loho berteriak.

“AHA! MARVOS LOHO!”

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Reuni

Kupandang berulang-ulang SMS dari Dara, sahabat terbaikku semasa SMA. Mencoba meyakinkanku biar datang nanti pada saat reuni SMA untuk kesekian kalinya. Ku rebahkan badanku dengan sangat malas dan berat pada sofa yang sudah tidak lagi terlalu empuk. Bahkan pinggangku sempat mengeluh perih ketika tulangku bersinggungan dengan tulang-tulang sofa.

“Uhhh.. Sakit. Memang sofa tua, terlalu renta.” Gerutuku.

Memang sudah terlalu lama, terlalu sulit untuk diingat, kapan terakhir aku menepuk-nepuk debu sofa biar berterbangan. Kapan terakhir aku menyikat dan menyeka sofa tua kesayangan dan satu-satunya ini. Sofa dengan warna biru tua kelam, hadiah pernikahan dari sahabat-sahabatku, Dara salah satunya. Dara, sahabat yang begitu ingin aku temui, sahabat yang ingin aku peluk, aku lepas, kemudian aku peluk lagi.

Kupandang sekali lagi handphone butut ini, memastikan akan mengatakan “tidak” pada ajakan Dara. Tapi godaan untuk bertemu Dara sekali lagi membuatku bimbang, berteman dengannya tidak pernah sendu, mudah menghilangkan pilu yang kadang terlalu lama menjadi lumut di hati. Namun… Kali ini? Dara… Maaf.

Jengah. Hari begitu panjang, menunggu dia untuk pulang, menemaniku yang sendirian. Namun masih saja dia disibukkan oleh kemacetan jalan. Sepi, bahkan burung gagak pun akan mati. Mendengarkan irama jam yang begitu monoton diikuti dengan napasku yang sama-sama saja. Begitu standar, begitu-begitu saja. Sejak hari itu, hidupku terasa sama, terasa hambar, menunggu dia pulang, tanpa bisa melakukan apa-apa. Kecuali… Kecuali dengan memainkan social media dan bermain gadget masuk dalam hitungan melakukan apa-apa.

Sesekali otakku berputar pada sisi reuni SMA. Mengingatkanku kembali pada jaman-jaman indah semasa SMA. Begitu ingin aku pergi pada reuni besok. Begitu ingin kakiku melangkah dan menari riang bersama Dara. Seandainya saja aku bisa.

Kusibakkan tirai yang menutupi debu atas sofa. Dia bilang bulan kali ini begitu indah untuk dipandang. Begitu menggoda untuk dicuri, disandingkan dengan mataku yang berkilauan. Ah, masih saja dia romantis sesuai caranya. Pesan yang langsung saja dikirim ketika aku mengeluh tentang rinduku padanya. Sepuluh jam bergitu terasa berlebihan untukku. Kasih, cepatlah pulang. Rindu membuatku terus menggerutu.

Memang bulan sekarang begitu indah. Berkilauan, pamer, membuat bintang disekitarnya menjadi iri. Cahayanya membuat bintang kehilangan perhatian. Rasi bintang terindah dan venus merah pun tercuri perhatiannya. Ah… Anggunnya bulan malam ini masih belum bisa menggoyahkan pikiranku tentang reuni besok yang akan terjadi. Bisa aku rasakan hiruk-pikuk dan kemeriahannya seperti tahun lalu. Tawa dan canda diumbar, bahagia rasanya.

Lalu… Tahun ini, apa aku lewatkan saja?

Lagi, Dara meneleponku kembali. Seingatku sudah kesembilan kalinya dia menelepon. Tapi tidak pernah aku angkat. Khawatir terselip rindu dalam getar suaraku. Khawatir terucap kata ingin bertemu, dengan malu yang menunggu. Aku ingin bertemu Dara, bicara, tertawa, bahkan tertidur sementara. Tapi tidak pada masa ini, aku belum siap.

Sama dengan belum siapnya aku untuk mengangkat panggilan dari Dara. Kali ini? Maaf… Dara.

Entah kenapa aku begitu mudah larut dalam sendu yang berkepanjangan. Mudah tenggelam dalam rasa sepi, gundah, dan jengah bersamaan. Tidak seperti aku dulu, semasa SMA yang begitu bersemangat, mengikuti banyak kegiatan sekolah hingga lupa rumah. Aku dulu begitu populer, bahkan sangat populer. Bahkan, mereka calon murid baru dan alumni tiga generasi terdahulu mengenal namaku dengan baik. Lantas, mengapa aku masih ragu untuk datang pada reuni?

Reuni. Datang atau tidak, aku rasa mereka masih akan mengingatku. Tidak hanya itu saja, mereka akan merindukanku dengan segala keramaian yang kami buat. Reuni pasti masih ada tahun depan. Mungkin tidak menjadi masalah aku melewatkannya tahun ini. Hanya saja, harus menunggu selama dua belas bulan, atau empat puluh delapan minggu, atau tiga ratus enam puluh lima hari lagi untuk reuni berikutnya.

Mulai tergoda aku untuk mengatakan iya pada Dara. Meneleponnya balik, mengatakan iya, kemudian menentukan corak apa yang akan kami pakai pada reuni nanti. Belum selesai khayalanku pada keriuhan nanti, tiba-tiba pintu depan ada yang mengetuk.

“Iyaaa..? Siapaaa?” Teriakku dari dalam.

“Ini aku, akhirnya aku pulang.” Kekasihku datang.

“Sebegitu macet dijalan?” Tanyaku dengan wajah kesal. Berniat sedikit mencuri perhatian, melempar sinyal bahwa rinduku terlalu meluap-luap saat ini.

Tanpa menjawab dia melepas sepatu dan menaruh belanjaan di meja depan, berjalan dengan lelah menghampiriku. Jongkok, tersenyum, kemudian, “Hai.” Mengecupku manis di kening, memelukku erat, mengecup pundakku sebegitu halus.

“Aku rindu.” Bisikku.

“Iya, aku tau. Karena sama rasa itu ada padaku.” Balas bisiknya.

Dia beranjak, kembali ke depan pintu rumah, mengambil belanjaan yang tadi dia lepaskan. “Beli apa untuk hari ini?” Tanyaku penasaran.

“Spesial, nasi goreng mawut plus telor dadar.” Senyumnya mengisyaratkan sesuatu.

“Pak Tobi’in??” Tanyaku buru-buru.

Dia mengangguk. “YEAAH! Makasih sayaaang…! Pantesan kamu lama.” Erangku manja.

Pak Tobi’in adalah penjual nasi goreng mawut favoritku semasa SMA. Rasanya begitu menggoda, aromanya terlalu naif untuk ditahan. Aku begitu mencintainya semasa itu, begitu menyukai racikan yang dia buat selama bertahun-tahun. Hingga aku lulus pun, aku masih sering bertandang ke sana.

“Eh, kamu jadi ke reunian besok?” Tiba-tiba dia bertanya.

Mendadak nafsu makanku yang tadi banyak, mulai melunak. “Hmm. Masih belum tau. Menurut kamu?”

Dia tersenyum manis menggoda. “Aku rasa Dara juga sangat merindukanmu.”

“Mungkin tidak, aku tidak akan datang.” Sambilku membuka bungkusan nasi goreng mawut spesial.

“Yakin?” Tanyanya sambil menggeser kursi biar duduk berhadapan denganku.

Aku hanya bisa mengangguk. Mengambil piring yang dia sodorkan, tak sabar untuk makan. Tak sabar untuk menyudahi percakapan.

“Masih ada sekitar delapan belas jam untukmu berubah pikiran.” Godanya lagi. Aku acuh, mulai makan dan menikmati nasi goreng mawut spesial.

“Enak?” Tanyanya sekali lagi.

“Sudah pasti lah!” Jawabku tanpa ragu, diakhirnya dengan tawa kami yang memenuhi seisi rumah.

“Hmm. Sayang, besok pagi jadi kan?” Tanyaku lirih.

Dia taruh piring dengan nasi goreng mawut di atas pangkuannya. Kemudian dia genggam tanganku erat, menatap mataku tajam. “Hanya bila kau siap. Dan aku berharap secepatnya kau siap. Meski bukan besok.”

Aku tersenyum manis, “Sudah berapa kali kita menundanya?”

“Berkali-kali. Terlalu banyak.” Jawabnya sambil membawa satu suapan nasi goreng mawut ke dalam mulutku.

“Jadi?” Tanyanya padaku.

“Aku siap.” Tegasku padanya.

Tersenyum dia, dikecupnya kedua kakiku, “Selamat diamputasi besok, kaki-kaki istriku.”

Disentuhnya pipiku dengan lembut. Mengusap pipiku dengan jempolnya yang maju-mundur, “Aku mencintaimu, masih sama. Dengan atau tanpa kakimu.”

Diciumnya mesra bibirku yang basah dengan air mata.

1 Comment

Filed under Uncategorized

Bugil

Aku bertelanjang di keramaian.

Melewati dinginnya malam tanpa satu helai busana, tanpa satu helai benang.

Tak hanya malam yang dingin, tatapan jijik orang-orang yang membuatku lebih bergidik.

 

Bertelanjang aku berjalan di keramaian.

Tanpa ada yang sudi bertanya ada apa pada pandanganku yang kosong melompong.

Bahkan mual melihat lemak-lemak bergelambir, pada perutku yang hampir menutupi kemaluan.

 

Bertelanjang, aku di tengah jalan.

Tidak ada yang menabrak, sengaja mengelak.

Tidak ada yang berteriak, hanya memandang dengan mengernyitkan alis mereka kuat-kuat.

 

Sejauh apa aku sudah berjalan?

Hingga di masa aku berada, tidak ada lagi yang perduli pada yang bukan siapa-siapa.

 

Bugil aku dalam heningnya malam, menangis lirih dalam acuhnya peradaban.

 

 

 

Teruntuk aku sendiri yang sengaja melewati pria tanpa busana di jalan tadi.

Teruntuk aku sendiri, yang menulis malu pada diri sendiri.

Teruntuk aku sendiri, ya, kepada aku sendiri.

1 Comment

Filed under Uncategorized

Ibadah Hari Jumat

Jika berbicara tentang Tuhan memang tidak ada yang tidak mungkin.

Terburu buru hampir terlambat khotbah jumat. Menggeser badan saya dan meminta sedikit ruang untuk duduk.

Dengan kaki kiri dia berdiri beribadah jumat bicara kepada Tuhan. Dengan satu kaki, dia masih berdiri mengeja doa dalam ibadah sholat sunnah.

Dan, bagian mana, dari rezeki Tuhan yang kamu dustakan?

20130816-124042.jpg

Leave a comment

August 16, 2013 · 12:46

Marah

Sudah sekian lama kau pergi, meninggalkan aku dan teman yang waktu itu hanya mentertawaiku ketika melihatmu jauh. Sembari kau membagi kasih, aku kau tanggalkan. Mencoret-coret kembali warna yang telah pudar, tak berjeda, tanpa perasaan.

 

Kau menangis palsu. Lidahmu terlalu kelu untuk berdalih. Jidatmu berkernyit, berpikir, drama mana yang ingin kau mainkan. Jauh sejak dulu, kita bertukar gerak dalam layar, tapi kini sirna tapa jejak. Sering ku mainkan berulang, tapi kau tidak.

 

Satu.

Dua.

Tiga.

 

Waktu itu aku yakin dengan cinta. Jarak ujung terjauh samudra dengan selat banda tidak akan mampu menandinginya. Berkata kau dulu, “Aku sayang banget sama kamu.”

Dengan wajah sedih, mengakhiri kisah kita. Menyudahi semuanya. Ya. SE-MU-a-nya.

 

Masa bergerak cepat, berulang kali bulan berganti, matahari nampak begitu lelah menanti. Tapi aku di sini masih marah, tenggelam dalam masa lalu yang begitu penuh sesal. Seandainya, merupakan kata yang sering terbesit semenjak saat itu.

 

Rindukan damai, menutup mata, dan mulai berhitung kembali.

Satu.

Dua.

Tiga.

 

Masih saja wajahmu terus berkelana dalam otakku yang kecil dan sempit. Membiarkan aku menyiksa diri tanpa batas, tak berbudi.

A-KU MA-RAH.

 

Bersenandung aku berbalapan dengan decit kursi yang bergoyang. Diikuti hentakan ujung kaki berbalas-balas. Jemari kananku naik bergantian, menimbulkan bunyi ketika kukuku menyentuh kayunya yang keropos tanpa isi. Sesekali ku tengok jam, lebih dari tengah malam. Tapi kau masih belum ingin pulang. Berkeliaran, muncul timbul dalam memori yang seenaknya kau buka-tutup.

 

Aku marah. Terlalu marah, hingga mataku menangis begitu lelah. Berpejam, menghitung.

Satu.

Dua.

Tiga.

 

Kau bilang begitu mencintaiku waktu itu. Apapun yang terjadi kita akan selalu bersama, dalam kasih, dalam pedih. Dalam mesra kita berbagi cinta, tawa, sesekali tangis kita maklumi tanpa sengaja. Bergandeng tangan kita di malam itu, wajahmu terlalu lelah untuk berjalan. Ingin ku menggendong, tapi… Memegang tanganmu dan melihat wajahmu berkilauan di bawah sinar rembulan membuatku tega.

 

Begitu banyak yang bisa membuat kita bahagia dan bertahan. Bahkan, begitu banyak alasan untuk kita kembali bersama. Tapi… Kau memilih pergi.

Sa-tu.

Du-a.

Ti-ga.

 

DOR!!!

Laras yang dingin kini hangat darah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized