Jompo ketigaku sama lusuhnya dengan dua sebelumnya. Mereka memakai baju seadanya, memasang wajah sekenanya. Namun berbeda dengan dua jompo sebelumnya, kali ini diawali dengan aku mematung tanpa mengedipkan mata. Sejak dia duduk di depanku, yang diikuti keheningan, sampai dia yang terlebih dahulu mengajukan tangan kanannya untuk ku genggam. Wajahnya, senyumnya, hingga besar hidungnya sama persis. Hanya saja matanya lebih sayu. Jompo ketigaku mirip dengan Pak Tua.
Tangannya masih saja bertahan, meminta untuk bersalaman. Tapi lebih dari itu, aku ingin memeluknya. Meski aku yakin aroma punggungnya tak mungkin sama. Aku memberikan tangan, mengayunkannya dengan sangat pelan. Bisakah sekarang waktu berjalan pelan dan biarkan ini berlangsung lama..?
Dia menatapku dengan sayu, menyapaku dengan batuk kecil. Batuk kecil kadang memang berhasil memecah kekakuan. Begitu pula kali ini. Matanya lebih dulu menyapa, disusul suara berat dan seraknya yang menegur. Aku balas menegurnya.
Gaung. Suaranya menjadi gaung dan aku tidak lagi berada pada porosnya. Aku tak lagi ingin mendengar, aku mengamatinya dengan seksama tanpa ada celah. Sebisa mungkin membiarkan ini berlangsung lama, dan menunda pelukan untuk bagian yang paling indah.
Dia tidak becerita banyak, lebih sering tersenyum dan memberi perhatian. Mungkinkah ini? Mungkinkah dia sadar akan aku yang rindu? Mengalahkan rindu jompo ketigaku pada pelukan. Pada titik ini, aku yang lebih membutuhkan pelukan.
Sesekali kami tertawa, membiarkan dua kursi tanpa meja menengahi kami berdua. Tanganku yang menggenggam tanganya dengan erat. Membiarkan keringat di telapak tangan menjadi begitu basah tanpa menyapunya.
Namun kadang manusia begitu naif. Membiarkan pikirannya terjebak. Mengatakan awal sebagai pertemuan yang selalu berakhir dengan indah. Enggan untuk memikirkan kejadian yang terburuk yang mungkin terjadi. Sama seperti sekarang. Begitu cepat rasanya, tiba waktu untuk memberikan pelukan sebelum jompo ketigaku keluar dari ruangan.
Aku mematung, enggan untuk memeluk, dan membiarkan kami berbicara jauh lebih panjang. Membiarkan obrolan ini menghabiskan hari. Sayang, matanya terlihat lebih sayu dari sebelumnya. Dia juga jelas mengatakan, bahwa keinginannya untuk tidur menjadi penyebab ini semua berakhir lebih cepat.
Dia membuka tangannya lebar-lebar. Memintaku untuk masuk ke dalam dekapannya, bukan seperti dua jompo sebelumnya, dimana aku yang memeluk mereka. Jompo ketigaku tersenyum lebar ketika melihat reaksi wajahku yang memerah.
“Ini yang kau inginkan?” Senyumnya menjadi jauh lebih lebar.
Aku mengangguk, kemudian memeluknya dengan erat.
Eh…
Sebentar…. Tunggu dulu. Ini? Apa benar? Masa sih??
…
Ya, memang benar. Memang ini… sama.
Aku memejamkan mata, menikmatinya kemudian mendekapnya lebih erat hingga daguku melewati bahu kirinya.
Tuhan, mengapa jompo ini memiliki aroma punggung yang sama?
Seketika pula, aku menangis. Ya, kau memang brengsek Pak Tua.
Puas kau??
Waahh.. lama gak baca, udh 19 chptrs left ajaa.. hehhe.. yg ini so touching euy..