…sepanjang jalan kenangan, kita selalu bergandeng tangan… sepanjang jalan kenangan, kau memelukku mesra… hujan yang rintik-rintik di awal bulan itu… menambah nikmatnya malam syahdu…
Ketika pertama kita terpisah jarak yang begitu jauh, kau bilang nyanyian ini dapat membuatku selalu ingat akan dirimu. Kau sering menyanyikan ini untukku. Dulu kau bilang, agar aku tak perlu memanen rindu terlalu sering. Kau sering mengatakan itu. Begitu sering, terlalu sering. Bahkan hingga kini. Ya, hingga kini.
Kini…
Malam ini aku menunggumu lebih lama dari biasanya untuk menelponku. Kita tak lagi terpisah jarak begitu jauh seperti sebelumnya. Hanya saja… Kini berbatas. Batasan yang kau buat sendiri.
Telepon genggamku berdering. Nada dering yang aku buat berbeda bila kau yang menelponku. Gairahku berlompatan. Aku yang dari tadi uring-uringan, beranjak cepat bangun dari tempat tidur.
Aku mengenggam erat telepon genggam berwarna hitam kusam. Biarkan berdering beberapa saat lebih lama. Aku tidak ingin meninggalkan kesan bahwa aku menunggu teleponmu dengan mengangkatnya segera. Aku tidak ingin ingin kau mengetahui betapa tersiksanya aku menunggu teleponmu. Beberapa detik kemudian, aku mendengarkan suaramu yang keluar dari pengeras suara.
Kau bernyanyi. Kau bernyanyi lagi untukku.
…sengaja aku datang ke kotamu… lama kita tidak bertemu… ingin diriku mengulang kembali, berjalan-jalan bagai tahun lalu…
…sepanjang jalan kenangan… kita selalu bergandeng tangan… sepanjang jalan kenangan, ku peluk dirimu mesra… hujan yg rintik-rintik di awal bulan itu, menambah nikmatnya malam syahdu…
Suaramu berbisik. Menyanyikan lagu indah yang berubah jauh menjadi pilu. Aku selalu ikut bernyanyi meski tidak bersuara. Mulutku membuka dan menutup mengikuti irama. Selalu seperti itu. Dari dulu, bahkan hingga kini.
Sempat kita terdiam sesaat, sampai aku menutup teleponmu tanpa kita sempat mengatakan satu kata. Aku sudah meneteskan air mata dengan senyum mengembang lebar. Sejak kau menyebutkan ‘sepanjang jalan kenangan’. Tanganku meremas telepon genggam dengan kuat. Degup jantungku yang bermelodi resah tadinya, kini memiliki ketukan pelan. Mataku yang tadinya kosong memandangi langit-langit. Kini mulai mudah menutup perlahan.
Mengapa kau harus berbisik? Tidak lagi lantang seperti dulu? Mengapa kau menelponku selarut ini? Tidak sesuai jadwal seperti dulu? Bolehkah aku menebak? Mungkiiin… Apakah baru saja istrimu tertidur pulas?
cinta tak harus memiliki… (ternyata)
Tidak segembira itu dalam senandungkannya kan ka..?
hahaha.. aku lagi sensitif sama hal-hal yang berbau menyimpang2 seperti ini.. deep story, though..
heeeii.. Love u sayang. :*