Subuh sudah usai. Selaras dengan bangkitnya matahari, dengan buih-buih cahaya yang mulai nampak. Aku mulai gelisah. Belum lagi tanganku harus melipat baju ini satu persatu. Aku enggan sebenarnya. Sebisa mungkin aku memperlambat gerakanku ini, sembari mencoba merapikannya untuk lebih rapi dari biasa, sembari mencoba membuka lipatan, melipat lagi, memastikan tidak ada lipatan yang tidak perlu, sambil sesekali bagiku menarik napas.
Lipatan tiap lipatan baju membuatku merasa semakin berat, ketika ku menoleh hanya tersisa tumpukan kecil dari baju yang tersisa untuk digosok dan dilipat. Tidak seperti sebelumnya, dimana baju, celana, sarung, hingga celana dalam ini harus di taruh di atas serambi duduk, kali ini aku harus memasukkannya ke dalam tas selempang berwarna hitam kusam. Sesekali aku berhenti menggosok, meniup arang, membiarkannya memijar, kemudian mendiamkannya sejenak. Sebisa mungkin aku ingin mengulur waktu. Waktu yang aku butuhkan agar tetap kuat ketika saat itu tiba.
Saat aku harus menunduk dan memperhatikan sela-sela lipatan, aku mencoba sesekali berlatih tersenyum. Membuatnya agar terlihat begitu mudah aku sauhkan. Membuatnya seperti aku memang ingin tersenyum, bukan sebaliknya.
Sesaat kemudian dia datang, membuka pintu dan mengucapkan salam. Salam yang hangat dan mendayu mesra. “Assalamualaikum sayang.”
“Wa’alaikumsalam.” Jawabku.
Langkah kakinya mendekat, ketika dia menghampiriku, aku membalikkan wajahku agar mengarah kepadanya untuk memberikan senyuman kecil. Sementara badanku tidak, sementara kedua tanganku masih sibuk menggosok celana pendeknya yang terakhir. Tangannya melingkar di pingganggku, dagunya menusuk di bahu kananku. Aku menutup mata, menarik napas, menikmatinya sedalam-dalamnya.
“Loh? Buat apa digosok? Lebih baik kau lipat saja sayang, simpan arang itu untuk memasak.” Nada bertanyanya yang penuh kebingungan.
“Memang kenapa? Setidaknya untuk kali ini saja. Untuk hari ini. Untuk kesanmu terhadapku dalam kebaikan.” Ku tempelkan kepalaku ke kepalanya dengan ketukan pelan.
“Kau selalu begitu. Memang selalu dalam kebaikan sayang. Tidak perlu kau mengulang menegaskan, atau hanya sekedar ingin tahu. Sekali lagi, kau selalu dalam kebaikan sayang. Biarkan kalimat ini menjadi cukup ya sayang?” Desaknya dengan mencumbu pipiku.
“Aku, hanya ingin mendengar ketika kau mengucapkannya. Bukan berarti aku tidak percaya.” Ujarku sambil memasukkan celananya ke dalam tas.
Kami terdiam. Aku menutup rapi tas itu, memastikan tidak ada satupun yang tertinggal, kemudian mengangkat tas itu, kemudian memberikannya. Kedua tanganku sejajar, wajahku memberikan senyum.
“Nih.” Kataku dengan senyuman yang daritadi aku latih.
Dia tersenyum. “Terima kasih untuk tidak bersedih. Tidak membuatku menjadi berat untuk pergi.”
“Tentu saja.” Kali ini aku mencoba tersenyum lebih lebar.
Dia mengecup keningku, menggandengku dengan tangan kirinya. Dia berjalan di depanku, membawaku untuk mengantarkannya ke depan pintu.
Tak lama kemudian dia melambai, berjalan menjauh bersama senyumnya. Hingga yang terlihat hanyalah punggunggnya yang menjauh, yang pergi meninggalkanku. Aku tersenyum, melambai dengan semangat. Bisa kurasakan tulang-tulang di wajahku sakit karena memaksa untuk tersenyum.
Ketika dia menghilang pada belokan pertama, aku masuk, menutup pintu. Aku berjalan menuju tempat memasak untuk menaruh arang yang tadi aku pakai. Aku berjalan pelan, kakiku gemetar, wajahku berair, suaraku tersendat kemudian perlahan menghilang. Aku mencoba sebisa mungkin bertahan, dan duduk mencapai lantai.
“Pulanglah Mas. Kau sudah berjanji. Aku bahkan sudah merindukanmu saat ini.” Dan membiarkan hari itu dengan aku yang tenggelam dalam tangis dan kerinduan. Ketegaran? Menjadi kata yang asing ketika aku sendiri.
Kali ini, tak perlu bagiku menaruh tangan di mulut untuk menahan isak tangis bukan?
kadang, pembaca merasa suatu cerita bagus bukan hanya karena bagus secara permukaan, tapi kadang, karena…
‘ah.. gue tau banget perasaan macem begini…’
well,
pulanglah mas, aku bahkan sudah merindukanmu saat ini…
:’)
O ya..? :*