“Ah, sudahlah di rumah saja!!” Bentakku dengan agak keras. Berulang kali dia memintaku untuk menemaninya ke mesjid.
“Tapi untuk kali ini saja, untuk terakhir kalinya. Aku tidak yakin dapat bertahan selama satu minggu lagi.” Suara serak beceknya memaksa untuk terdengar.
“Ah! Kau selalu seperti itu Pak Tua!! Memanfaatkan keadaanmu yang renta dan sakit-sakitan! Selalu saja begini! Tidak!! Kali ini kita di rumah saja!” Aku berteriak marah.
Posisinya yang sedang berbaring lurus, mencoba mengangkat dada hingga kepalanya agar dapat bersender pada dinding. Aku yang tadi duduk sekarang berdiri, mencoba untuk menjauh, dan berhenti dari perdebatan konyol ini. Aku malas dengan hari Jum’at. Hari dimana saat mendekati tengah hari, Pak Tua selalu memintaku membawanya ke mesjid.
“Tunggu.” Tangannya bereaksi seolah ingin menahanku. Walaupun sebenarnya tidak akan pernah sampai jika dia tidak beranjak dari sana.
“Sudahlah, aku lelah dengan buang-buang waktu ini. Aku ingin memotong-motong tahu.” Aku berusaha untuk acuh.
“Bukan. Ini, tolong. Nampaknya aku akan berak lagi.” Pak Tua memelas.
Cih. Aku langsung menghampirinya, membantunya berdiri, beranjak dari sana. Baunya Pak Tua seperti manusia dengan enam ketiak. Menyengat, seperti bau keringat yang keluar setelah dipanaskan matahari. Baunya busuk. Membuatku ingin muntah.
Aku memapahnya dengan hati-hati. Pak Tua sudah agak membungkuk. Bukan karena kesalahan pada tulang belakangnya, namun dia terlalu takut untuk jatuh. Aku memegang pergelangan tangan kirinya dengan selembut mungkin. Satu lagi tanganku, pas berada di bawah ketiak kanannya. Satu persatu langkah kecil bergerak dengan sangat lamban.
“Bisakah kau menggendongku saja? Aku khawatir tidak akan sempat.” Mintanya dengan rendah hati. Senyumnya mengarah padaku. Gemetar tangan kiri Pak Tua bisa kurasakan di dadaku ketika dia menyentuhnya.
Tanpa suara aku menggendongnya. Kedua tangan kiri Pak Tua melingkar di leherku. Sebisa mungkin aku berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Dengan tangan kiriku yang ada di bawah lutut Pak Tua, dan tangan kanan yang berada di bahu Pak Tua. Kepalanya bergoyang-goyang tanpa kendali ketika aku berjalan cepat. Bisa terlihat air liurnya keluar tanpa dia sadari dari muluntya, bergerak perlahan menuju pipi kanannya. Menuju dadaku.
“Tutup mulutmu Pak Tua! Air liurmu kembali keluar!” Diiringi dengan napasku yang sedang menahan berat.
Pak Tua langsung menutup mulutnya. Setibanya di kamar mandi, aku menurunkannya perlahan-lahan. Mendirikannya, membuka celananya, dan menggantungkannya di bahu kiriku. Perlahan kedua tanganku menahan berat Pak Tua agar dia dapat segera untuk jongkok.
“Yakin kali ini kau ingin jongkok? Bisa Pak Tua?” Tanyaku cemas. Aku tak ingin dia terjatuh seperti kemarin karena lututnya tak lagi mampu menekuk.
“Mari kita coba. Aku tak ingin membuatmu sepanjang berak menahan berat badanku.” Kedua tangannya yang menggetar mencoba berpegangan erat pada kedua pergelangan tanganku.
“Jangan berlagak kau Pak Tua. Kita berdua tau kau seharusnya sudah mati. Berak saja kau tidak mampu.” Balasku sinis.
Pak Tua tertawa terbahak-bahak. “Rupanya kau punya bakat menjadi pelawak Fithra.”
Ketika hampir dalam keadaan jongkok, muka Pak Tua meringis. “Apa ku bilang. Sakit bukan? Sudahlah. Biar ku tahan. Kau memang merepotkan.”
Pak Tua mendongak, dan mengucapkan kata terima kasih dari senyumnya yang menampakkan gigi-giginya yang sudah tidak lengkap lagi. Aku membalasnya dengan wajah datar. Bau sudah memenuhi ruangan itu. Tapi dari tadi aku hanya sedikit mendengar suara berak Pak Tua berjatuhan. Kali ini baunya luar biasa. Begitu sangat menyengat. Lebih dari sebelumnya.
Pak Tua terkekeh menahan tawa. Aku mengernyitkan dahi. “Apa yang kau tertawakan Pak Tua?”
“Baunya hari ini lebih dari biasanya ya?” Tanyanya dengan muka girang.
“Sialan kau Pak Tua. Iya. Kali ini kau berlebihan. Makan apa kau tadi pagi?? Bukankah hanya satu telor!?”
Pak Tua kembali terkekeh. “Bukan tentang apa yang aku makan. Tapi dimana bau itu berada.”
“Apa maksudmu Pak Tua??” Tanyaku kebingungan.
“Itu. Celanaku.” Ujar Pak Tua.
Hah? Celananya? Aku menoleh ke kiri. Brengsek! Pak Tua itu terlebih dahulu berak di celananya! Pantas saja dadaku basah. Ku pikir karena air liur Pak Tua, ternyata bukan. Sial!
Wajahku memerah marah. Pak Tua berhenti tertawa, kemudian mencoba sedikit menghiburku, “Maafkan ya, sebentar lagi saja. Sebentar lagi saja. Bisa ku rasakan aku mendekati mati.”
“Baguslah.” Ujarku datar.
Aku tak bisa segera menjauhkan celana Pak Tua karena kedua tanganku menahan Pak Tua. Tak lama beberapa saat kemudian, dia menyudahinya. Aku menariknya, membuatnya untuk menaruh kepala di bahu kananku, dia memelukku, dan tentu saja, menyingkirkan celananya itu. Siraman air dan tangan kiriku membasuh lipatan pantat Pak Tua. Membersihkan semua berak-beraknya.
Ada-ada saja Pak Tua, ketika kembali dari sholat jum’at, Pak Tua memintaku untuk menjaganya pada saat sholat. Aku mengangkatnya agar bisa beridiri. Kemudian, aku menjaganya agar dia bisa berdiri dari sujudnya, dan tidak terjatuh dari berdirinya. Beberapa kali dia mulai goyah, terutama saat peralihan ruku’ menuju gerakan selanjutnya.
Saat rakaat ketiga, di sujudnya yang pertama begitu lama. “Hei Pak Tua! Ini masih rakaat ketiga! Sujud pertama pula! Belum rakaat dan sujud terakhir!” Biasanya Pak Tua memiliki doa dalam hati saat sujud dan rakaat terakhir.
Pak Tua tidak juga mengangkat tubuhnya. Apa karena tidak bisa? Bisa ku dengar tadi napasnya yang tersengal-sengal, yang semakin tipis hingga kini tidak lagi terdengar.
“Hei Pak Tua!! Kau dengar aku kan!?” Tanyaku dengan keras.
“Brengsek.” Ujarku pelan. Aku mengangkat tubuh Pak Tua. Kemudian, aku kehilangan keseimbangan, kemudian terduduk, dengan Pak Tua yang lemas di pelukanku.
“Hoi Pak Tua! Janganlah membuatku susah!!” Teriakku keras di telinganya.
Pak Tua diam, napasnya juga tidak terdengar. Tubuhnya tidak lagi bergetar. Seperti boneka dengan kepala yang bergelantungan di bahu kananku.
Aku terdiam, wajahku kebingungan dan mulutku tak bisa menutup. Aku memperhatikan senyum Pak Tua, mulai mendekap Pak Tua dengan erat dan kencang, tanpa perlu khawatir dia menyadarinya. Tanpa perlu khawatir itu dapat menyakitinya.
Mataku membasah, pelan seperti air liur Pak tua, mulai beranjak ke pipi. Bedanya? Aku menyadari air itu. Sedangkan ketika Pak Tua berliuran, dia tidak menyadarinya.
Pak Tua mati. Brengsek kau Pak Tua. Seenaknya saja kau pergi, tanpa pemberitahuan apa-apa. Bangun Pak Tua, aku akan mengantarkanmu sholat ke mesjid. Bangun Pak Tua, aku akan menahan beratmu saat berak. Bangun Pak Tua, brengsek, Bangun Pak Tua!!
Brengsek kau Pak Tua!!!
luar biasa… as usual..
Thanks partner…
bagus rin..
dpt inspirasi dari mana tu pak tua..
kerenlah..
thanks de. uda lama ini nahan buat nulis. kepotong karena ujian.
) besok2 dibaca lagi ya de cerita barunya. :p