Punggawa, 10 Chapters Left. Pada Suatu Hari.

Pada suatu hari kami bergembira, penuh tawa, canda, meski pernah jua ada sedikit air mata. Pada suatu hari kami saling memiliki, saling bergantung, pandai menaruh harapan, dan berani untuk berkorban. Pada suatu hari kami juga saling memeluk, beribadah bersama, bahkan saling melempar tanah liat untuk bersenang-senang.

Tapi itu pada suatu hari yang lalu.

Kini kami mungkin saling merasa saling kehilangan. Mungkin mereka tidak merasa demikian, tapi aku iya. Merindukan hari-hari yang lalu. Masa kecil. berempat bersama ayah, ibu, dan adik. Mau mereka sudah mati atau belum, tentu nantinya aku akan sendiri. Tentu nantinya aku harus memulai sendiri. Mungkin itu dulu adalah bagian Ayah dan Ibu untuk membuat banyak cerita bahagia di keluarga kami. Mungkin sekarang…. Aku yang harus memegang pena untuk menuliskan cerita yang sama.

Pada suatu hari yang lalu pernah aku ingat kami bersepeda berboncengan bergantian. Kadang Ayah yang membawaku di belakang, kadang Ibu, pernah sekali aku yang membonceng Pelita. Masih ingat aku betapa gembiranya ketika memeluk ayah di belakang sambil memperhatikan kakiku yang bergantungan hampir menyentuh tanah. Masih ingat pada suatu hari yang lalu aku menjadi ikut gemetar ketika Ibu memboncengku dengan goyah. Pernah suatu hari aku dan Pelita bersepeda, dan berujung pada marahnya Ayah kepadaku, karena aku dan Pelita terjatuh ke tanah. Tapi tidak hanya sampai disitu. Beberapa detik kemudian Ibu pasti memeluk. Ayah juga. Kau tau bagian terbaiknya? Ibu akan membuatkan tahu-tempe bacem untuk santap sore.

Bahkan sepeda biru usang dengan cat yang terkelupas itu kami beri nama. Nama yang sering aku dengar pada saat pertama kali sekolah. Kau juga pasti tau siapa. Sepeda itu kami beri nama Budi. Nama yang biasa dijadikan latihan membaca. Budi adalah teman yang menggembirakan, suka membantu, dan teman untuk berkeliling. Tapi sayang… Budi harus dijual murah, karena pada saat itu Ibu membutuhkan sedikit uang lagi untuk membeli obat bagi Pelita yang sedang demam. Sempat beberapa hari yang lalu aku menangis, dan menaruh kesal pada Pelita. Tapi semua itu hilang ketika aku ketakutan melihat Pelita menggigil kedinginan padahal badannya panas sangat tinggi.

Tapi… Kemudian aku mendapatkan piggyback dari Ayah selama satu minggu ke depan di sore hari. Berkeliling sebagai pengganti Budi yang sudah terjual. Kau tau betapa gembiranya aku saat itu..? Aroma punggung Ayah yang begitu menusuk mengalahkan bau menggoda tahu-tempe bacem buatan Ibu.

Sempat juga pada suatu siang yang terik, aku duduk sendiri merindukan Budi. Ayah dan Ibu masih di sawah, tidak dapat menemaniku. Bahkan mungkin mereka sama sekali tidak tahu bila aku masih merindukan Budi. Tapi tidak berlangsung lama untuk aku duduk sendiri saat itu. Karena Pelita yang sudah sembuh merengek untuk dielus punggungnya. Pelita masih ingin melanjutkan tidur siang. Dan aku, menyukai ketika Pelita merengek, meminta untuk dielus.

Tapi… Itu pada suatu hari yang lalu, bukan?

Kini… Aku duduk sendiri, membaca berkas-berkas itu dengan lebih teliti. Bagian mana yang harus aku perjelas, sebelum mengiyakan pekerjaan ini untuk aku ambil. Tentang apa sebenarnya objek yang mereka inginkan untuk aku potret, selain itu juga dimana nantinya aku akan tidur, dan tentunya berapa mereka berani membayar.

Duduk saja seperti itu membuat aku berpikir banyak. Terlalu banyak hingga membuat otakku penuh. Mungkin bila kini aku merasa kesepian, karena dulu aku sudah dikelilingi oleh mereka yang menyanyangiku. Mungkin itu yang seperti orang kebanyakan bilang, bukan? Hidup ini seperti roda. Kadang kita berada di posisi atas, kadang juga di bawah.

Ketika sedang mencermati paragraf terakhir tentang kontrak singkat ini, telepon genggamku bergetar. Satu pesan masuk. Pesan singkat yang mengangkat senyum.

Pacar, jadi makan siang bareng?

Yaaah… Seperti orang kebanyakan bilang bukan? Hidup ini seperti roda. Kadang kita berada di posisi atas, kadang juga di bawah. Dan kadang, kita kembali lagi ke atas.

Seperti yang sempat aku bilang di awal. Bila suatu hari yang dulu, Ayah dan Ibu membuat cerita bahagia tentang keluarga kami…

Mungkin sekarang giliranku untuk memegang pena dan membuat cerita bahagia lain? Untuk membuat cerita bahagia pada suatu hari yang akan datang. Benar bukan?

Leave a Comment

Filed under .Punggawa.

Punggawa, 11 Chapters Left. Frian Meringkuk.

“Lekas kemari kau!” Bisik Frian. Napasnya pendek dan berbunyi karena panik. Mungkin jantungnya berlompatan tidak karuan. Aku yang mendengarnya menghardik seperti itu meski sudah di peringatkan laki-laki berkulit hitam legam di depan pintu masuk, tetap saja terkejut. Bergegas aku maju mendekatinya yang terpisah besi-besi hitam kokoh.

“Bagaimana kau bisa kemari?” Tanya Frian.

“Perjalanan empat hari penuh. Aku menempuhnya selama empat hari penuh.” Aku tersenyum. Namun hatiku sedih melihat Frian dalam kondisi seperti ini. Frian harus lekas pulang. Ya. Tidak akan ada orang lain yang akan menjenguknya di sini. Tidak. Bahkan istri Frian tidak bisa ikut denganku karena harus mengasuh anaknya yang baru masuk taman kanak-kanak. Selain itu, dia tidak ingin melihat keadaan Frian seperti yang aku lihat sekarang. Terlebih bila itu dilihat oleh anaknya.

“Oooh… Kau tidak tau bagaimana senangnya aku melihatmu sekarang. Tapi… Apa yang kau lakukan disini?” Tangannya menggenggam erat kedua telapak tanganku.

Aku hanya memandangnya iba, kemudian rasa penasaran mendorongku bertanya lebih jauh. “Apa yang telah terjadi?”

Frian yang tadi setengah berdiri, kini duduk lemas. “Perompak sialan. Mereka biadab.”

Tubuh Frian tiba-tiba gemetar. Tangannya menyilang dan meremas kuat lututnya. Lutut-lututnya mengapit dagu. Matanya terbuka lebar, tapi entah apa yang dilihat Frian. Pandangannya kosong.

“Perut-perut mereka yang ketakutan berawarna hitam legam. Sementara bagian tubuh yang lainnya seperti ranting. Mereka berlari ketakutan. Karena mereka yang dengan ras sama saling mengejar. Memburu. Bahkan sambil tertawa dengan sejata yang diacungkan ke atas. Perompak Mogadishu tidak hanya menguasai lautan, tapi juga kotanya. Mereka tidak menemukan musuh lain selain klan yang berbeda. Mungkin ras mereka sama, tapi darah yang mengalir dalam tubuh mereka berbeda. Sebab itu lah mereka saling bunuh, saling memacung kepala dan memakan sisanya.”

Frian merinding. Aku menjadi lebih iba melihat Frian yang menggoyang-goyangkan tubuhnya karena ingin mengusir gemetar itu.

“Mereka bahkan merampas mobil polisi. Polisi tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka bahkan diam saja ketika melihat penis-penis dan payudara dipotong.” Frian menambahkan.

“Lalu?” Tanyaku sambil menyisipkan tangan di antara jeruji besi dan menaruhnya di pundak Frian.

“Aku melihat ketakutan itu hampir setiap hari. Mereka bahkan melindungiku lebih dari nyawanya. Melindungiku lebih dari darah daging mereka sendiri. Mereka ingin kengerian itu dilihat dunia. Melalui aku. Melalui apa yang aku potret, apa yang aku tulis. Mereka… Mereka begitu lelah. Sangat lelah. Tidak hanya fisik. Secara mental jua. Mereka bosan melihat darah. Enggan berpijak lagi pada takut. Mereka… Mereka sudah muak. Marah pada orang tuanya, mengapa dilahirkan dari rahim yang diburu. Bukan dari rahim mereka yang memburu.” Frian menangis. Matanya tidak berkedip.

Aku yang semakin ter-iris melihat Frian seperti itu, lantas meminta Frian menyudahi saja ceritanya. Aku bisa mengerti syok yang dilihat Frian saat itu.

“Frian…” Panggilku pelan.

Namun Frian tidak bergeming. Frian ketakutan. Dia masih saja mengoceh tentang bantai-membantai, memenggal kepala, suara tawa yang terdengar tidak lagi bahagia, melainkan horor. Frian juga berkata sekarang kesunyian adalah pertanda bahwa itu aman. Tidak ada lagi tarian. Tidak ada api unggun, tidak ada bermain, berkejaran untuk anak pria maupun wanita.

Aku memanggil-manggil Frian, bahkan sampai meneriakinya. Tapi Frian masih saja mengoceh. Dia bahkan tidak peduli dengan aku yang berdiri tepat di sampingnya, yang dari tadi mengguncang badannya dengan kuat. Sampai akhirnya Frian berhenti mengoceh dengan mata yang basah. Ketika kedua tanganku menepuk kedua pipinya, dan menatap matanya langsung.

“FRIAN!” Teriakku ke arahnya.

“Apa yang kau lakukan!? Kau tidak boleh berteriak di sini!” Bisik Frian tegang. Frian panik. Dia melihat ke dalam dan luar sel. Takut bila ada penjaga yang datang.

“Frian… Frian…” Panggilku lagi pelan.

“Sekarang kau sudah aman. Aku dan Kedutaan akan datang menjemputmu pulang.” Lanjutku lagi.

“Be…benarkah?” Ujar Frian.

Aku mengangguk pelan.

Tak lama kemudian, bunyi sirine terdengar kencang. Aku yang tadi melihat wajah Frian gembira, tiba-tiba ekspresinya berubah lagi menjadi horor. Matanya terbuka lebar, mulutnya bergetar, keringatnya keluar secara tiba-tiba. Seperti sudah ada dari tadi, namun hanya bersembunyi saja di lipatan-lipatan dahi Frian. Kini mengucur deras.

“Frian..!?” Panggilku lagi.

Kami dikejutkan teriakan seorang wanita memilukan. Histeris. Aku pun melihat seorang wanita digandeng dua penjaga masuk melalui pintu yang aku lewati tadi. Mereka berjalan begitu saja melewatiku. Wanita itu berteriak. Terus berteriak. Tidak jelas, mereka berteriak dalam bahasa yang tidak aku mengerti. Sementara itu, Frian… Frian ketakutan. Dia bahkan kini tak berani melihat. Frian ketakutan. Frian berteriak.

“PERGI! PERGI D!! SELAGI KAU BISA!! CEPAT PERGI!!! SEBELUM TERLAMBAT!!!” Secara tiba-tiba Frian melepaskan diri dari ringkukkannya, dan kini berada tepat di depanku. Mungkin hanya terpaut beberapa centi kedua ujung hidung kami. Frian meremas begitu kuat tanganku. Hingga aku merasa kesakitan.

“PERGI!! LEKAS PERGI D!!! JANGAN PERDULIKAN AKU DI SINI!!” Teriak Frian.

Reaksi Frian membuat apa yang aku takutkan terjadi. Penjaga yang dari tadi mengamatiku semenjak aku memasukkan tangan ke dalam sel Frian kini mendekat. Frian yang beberapa detik kemudian melihat penjaga itu mendekatiku membuatnya mundur ketakutan.

“CEPAT D! CEPAAATT!!!” Teriaknya putus asa.

Akhirnya, dengan sedih, iba, dan tidak ingin meninggalkan Frian sendiri, aku keluar saja dari situ. Aku keluar dari Rumah sakit jiwa atau lebih tepatnya penampungan di kota Dadaab, Kenya. Tetangga dekat Somalia.

“Frian… Itu bunyi sirine ambulan, bukan mobil polisi yang dirampas.” Ingin ku mengatakan ini tadi kepada Frian.

Leave a Comment

Filed under .Punggawa.

Punggawa, 12 Chapters Left. Alasan Kuat Frian.

Aku menjadi geram. Kamera pemberian Frian kepadaku ku genggam erat. Tapi bukan karena takut jatuh, melainkan marah. Marah pada keputusan yang Frian buat.

Hari itu hari yang cerah, kami berada di daerah bukit, bergembira dengan mencoba memasukkan langit dan bumi dalam sebuah bingkai kecil. Hanya aku dan Frian manusia di situ. Hanya beberapa perdu dan ilalang yang ada. Mungkin juga beberapa pohon besar yang berakar miring di pojok timur. Pada saat burung-burung sedang berterbangan gembira, saat angin bertiup pelan dan menggiring spora-spora ke tanah, saat itulah Frian memecah semua kedamaian. Tepat pada foto terakhir yang dia buat.

“Aku rasa… Ini foto terakhir yang aku buat.” Frian bicara tenang sambil mengamati hasil jepretannya.

“Eh?” Aku yang akan mengambil foto menjadi tersentak dan heran.

Frian memalingkan wajahnya ke arahku. Dia sudah berdiri tegak, sedangkan aku masih menaruh satu lutut di tanah. “Aku rasa… Ini hari terakhir kita memasukkan dunia dalam bingkai bersama, Fithra…”

“Apa maksudmu?” Tanyaku sambil berdiri.

Frian tersenyum saat itu, memandang ke arah langit, objek foto favoritnya. “Aku akan pergi jauh.”

Setelah mendengar kata itu, tiba-tiba aku dapat merasakan angin yang masuk melalui pori-pori baju. Tidak lagi hangat dalam rajutan sweater berwarna merah menyala. Angin pelan ini bahkan mampu menembusnya. Aku begitu merinding dengan kata pergi, atau semacamnya. Begitu banyak kehilangan yang aku terima selama hidupku. Dari Ayah, Pak Tua, Miranda, mereka, dan kini, yang tersisa dari yang aku punya hanya Frian dan Pelita.

“Hei… Hei… Apa maksudmu Frian..? Pergi? Kemana? Berapa lama? Jangan bilang….” Aku mencoba mengendalikan diri dan berusaha setenang mungkin melihat gelagat Frian yang berubah total.

“Aku tidak akan lagi berada di sini. Aku tidak akan lagi memanjakan kamera ini pada objek yang diam. Pada mereka yang tidak bernapas.” Senyum Frian ke arahku.

Kami berdiri sama tinggi. Mataku dapat menatap mata Frian dengan jelas. Bahkan ketika dia menutup mata, aku bisa melihatnya melalui kelopak matanya yang menutup pelan.

“Jadi… Kau menerima tawaran itu?” Ketakutanku memuncak.

“Iya.” Angguk Frian.

“Frian. Kau bodoh atau apa?! Bukankah sudah ku katakan bahwa dengan uang sebesar itu, berarti nyawamu taruhannya!” Nadaku meninggi cepat.

“Lagipula… Lagipula… Bila mereka membuka tawaran untuk pergi memotret ke daerah konflik terburu-buru seperti itu, itu berarti photographer sebelumnya sudah mati atau mengundurkan diri… Kau mengerti itu kan, Frian?” Semakin kuat aku menggenggam kamera ini. Karena marah, bukan karena takut jatuh.

“Iya.” Angguk Frian lagi. Kini dia kembali menatap langit-langit.

“Lalu?! Kenapa kau tetap ingin pergi?” Tanyaku lagi menahan marah.

“Itu bukan masalah uang, Fithra. Aku rasa kau tau itu. Itu hanya sekedar, ‘bonus’.” Frian mengedipkan matanya ke arahku, kemudian  mengambil napas panjang dan kembali menatap langit.
“Kau ingat? Tentang foto langit yang pernah ku berikan padamu?” Tanya Frian.

“Iya. Masih ada, baik dalam laptop, atau dalam bingkai di kamarku.” Jawabku murung.

“Ingat? Ketika langit biru bersinar terang, bukan berarti tidak ada bintang di belakangnya. Ingat kau Fithra??” Tanya Frian lagi.

Aku berdehem mengiyakan. Kali ini aku ikuti Frian yang masih saja memandangi langit. Entah mengapa langit begitu tenang saat itu. Awan begerak pelan. Mereka berjalan mengikuti arah angin. Terus bergerak ke arah yang sama dan beriringan. Yang besar kadang memecahkan dirinya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Merubah bentuknya menjadi beragam. Kadang kelinci, kadang seperti wajah seseorang, kadang seperi belalai gajah, kadang juga seperti ular. Lantas, seberapa kuat angin di atas sana?

Ya, Frian. Aku masih ingat. Kau bilang arti hidup tidak semudah itu untuk dilihat. Kau bilang, pasti ada alasan kuat untuk kita terus bertahan hidup. Kau bilang, kehidupan dan hidup adalah dua hal yang jauh berbeda. Hidup, bisa saja dengan makan dan berkembang biak. Tapi kehidupan… Memiliki arti yang dalam. Yang bisa ditemukan berbeda pada setiap orang. Beberapa di antara mereka memilih untuk berkehidupan seperti wayang ataupun robot. Tapi di antara mereka juga ada yang memilih untuk berkehidupan… seperti awan di langit. Mereka akan terus berubah bentuk sesukanya. Meski mengikuti arah angin yang sama. Seperti bintang yang baru akan terlihat di malam hari. Begitu juga kehidupan. Akan kau lihat tepat pada waktunya. Yang kau butuhkan hanyalah… Percaya. Bahwa ada alasan kuat kenapa kau dibiarkan hidup hingga sekarang. Ya Frian… Aku ingat. Ingat semua detailnya.

“Bagus bila kau masih ingat.” Lanjut Frian.

Aku diam. Geram ku tahan sendiri. Itu berarti… Frian ingin membuat bingkai yang dapat merubah cara pandang dunia. Frian ingin mereka yang duduk tenang menghamburkan uang dapat melihat derita daerah konflik di Somalia. Negeri bajak laut. Frian ingin dunia mengerti bahwa ada satu sisinya yang berteriak histeris. Frian ingin ke sana.

“Tapi…” Aku bingung ingin membantah apa.

“Aku rasa ini kesempatanku. Aku rasa, aku dan kamera ini bisa berbuat lebih banyak dari yang sekarang. Tidak hanya memberikan rasa damai dari objek yang diam dan indah. Tapi juga memberikan pecut untuk manusia yang tidak tau apa-apa. Agar mereka, ikut berdoa. Atau mungkin, melakukan sesuatu yang lebih besar daripada aku dan kamera ini.” Frian menatapku tajam saat itu.

Aku yang geram dari tadi, tanpa sengaja melepaskan kamera dan membiarkannya jatuh ke tanah. Marahku tak lagi tertahan. Aku mencengkram kerah baju Frian dengan kedua tangan. Aku berteriak. Tepat di depan wajahnya.

“Tapi bila kau pergi, kau bisa saja mati, FRIAN!!”

Frian tersenyum. Tanpa ingin menurunkan tanganku yang kurang ajar kepadanya.

“Aku tau… Tapi… Bukankah itu sebanding, bodoh?” Senyum Frian membalas teriakanku.

Aku tersentak. Cengkramanku melemah. Jadi kau memang benar-benar ingin pergi, Frian?

“FRIAAANN!!” Teriakanku spontan membuat mataku menjadi agak basah.

“Aku tidak bisa Fithra. Mendiamkan atau menolak, ketika aku memiliki kesempatan itu.” Frian tidak mencoba melepaskan dari cengramanku, tapi… Dia langsung memelukku kuat.

“Aku tau kau mengerti.” Napasnya begitu berat mendarat di pundakku. Agaknya begitu pula keputusan yang dia buat. Tidak mudah.

“Bukankah… Bila surat itu ditujukan ke arahmu… Kau akan melakukan hal yang sama?” Bisik Frian di telinga kiriku.

Cih. Brengsek kau Frian. Brengsek. Aku meremas kuat bajunya. Pada daerah di antara bahu dan pinggang.

“FRIAN! Kau BODOH!! BODOH!!! BODOOOH!!!”

Leave a Comment

Filed under .Punggawa.

Punggawa, 13 Chapters Left. Selamat Jalan, Pelita.

Sial!! Sial!! SIAAAL!!! Apa yang dipikirkan anak itu?! Diam saja? Dan sekarang tiba-tiba memberikan kabar kepadaku? Setelah semuanya?? Sialaaan!!

Aku melaju cepat segera setelah mendarat dengan pesawat pada penerbangan pertama. Anak itu memilih pergi pada tempat yang sepi dan indah. Tapi… Tempat itu terlalu jauh untukku. Untuk aku capai dalam waktu segera.

Dia telepon bilang, itu tempat banyak gunung yang masih terlihat tanpa adanya bangunan tinggi, itu tempat udara masih ramah menjamah hidung, tempat suara air jatuh masih terdengar jelas, bahkan udara menjadi seperti embun pada pagi hari. Dia juga mengatakan itu adalah tempat di mana rumput yang mudah basah karena malam, tempat bintang yang dapat dihitung tanpa tertutup cahaya lampu jalan. Di tempat itulah, dia bilang akan menulis sampai akhir. Akan bercerita banyak pada seluruh dunia tentang mimpinya. Tentang roman terakhirnya yang dia tulis. Tentang kepercayaan, tentang kepercayaannya akan cinta yang mampu merubah dunia. Jauh dari benci, jauh dari perang hati.

Sudah ku bilang pada Pelita, untuk dekat saja denganku. Tapi tak lebih dari hitungan tahun bersamaku, dia malah menginginkan pergi. Dia tidak tahan dengan bising suara kereta lewat. Tidak tahan dengan udara panas dan membuat dada sesak. Pelita juga sudah muak dengan terapi-terapi yang membuat imajinasinya tumpul. Dia tidak ingin mejadi budak kasur.

Aku berkeras untuk tidak membiarkan dia pergi. Bahkan aku tidak akan segan untuk mengunci kamarnya dari luar bila dia memaksa. Tapi Pelita bukan orang yang seperti itu. Dia juga mengerti bila aku tidak bisa diperlakukan seperti itu. Pelita paling paham, tentang kekerasan tidak dapat dilawan dengan kekerasan pula.

Masih ingat aku pada malam itu. Ketika Pelita meyakinkanku untuk membiarkannya pergi. Aku ingat itu sekitar tiga bulan yang lalu. Dia bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku tidak gentar. Hatiku masih saja keras untuk tidak membiarkannya keluar dari pintu manapun. Keras. Aku membuat hati ini menjadi keras untuk bisa dia ketuk. Untuk bisa dia coba cari kelemahannya. Lantas, Pelita tidak diam saja ketika aku menolak permintaannya mentah-mentah.

“Tidak, tidak. Aku tau apa yang ada dipikiranmu Pelita. Lupakan jauh-jauh pikiran itu. Besok, lusa, dan mungkin seterusnya, kau akan terus ada di sini. Terus menjalani terapi itu. Terus.” Tolakku mentah-mentah.

Pelita tersenyum. Duduk di sebelahku, merangkul tanganku dan bersandar pada bahuku yang masih berkeringat.

“Aku mengerti. Mengerti dengan semua kekerasan yang ada pada dirimu kakak.”

Aku menghela napas. “Lalu, itu berarti kau tidak akan meminta untuk pergi lagi?”

“Tentu saja tidak. Mengapa kau berpikir aku akan menyerah sebegitu mudahnya?” Pelita tertawa kecil.

“Tidak. Tidak. Hasil akhirnya bagaimanapun juga akan tetap sama, Pelita.” Jawabku ketus.

Dia mengangkat kepalanya, tangannya pelan-pelan menyentuh pipiku, biar bisa mengalihkan padanganku pada koran. Walau sebenarnya aku membuat koran itu hanya sebagai kamuflase belaka. Biar tidak perlu aku melihat matanya yang sedang memelas. Tapi yang kulihat saat itu pada matanya bukanlah pandangan memelas. Melainkan… Pandangan yang tegar.

“Kak, bisakah aku berbicara padamu dulu? Aku akan mengatakannya bila aku sudah selesai berbicara…” Pelita tersenyum dan mengedipkan matanya kepadaku.

“Huh. Silakan saja, tidak akan merubah apa-apa, Pelita.” Tidak. Firasatku menjadi buruk.

“Kak…” Sapa Pelita lembut, sambil menyandarkan kembali kepalanya ke bahuku.

“Masih ingat kah dulu Kak? Bagaimana aroma rumah kita dulu?” Pelita menghela napas.

“Aku tidak akan pernah bisa melupakan aroma rumput yang basah karena embun. Aku juga tidak akan pernah bisa melupakan ketika kita dulu berdua, terperangah melihat matahari yang bangkit diantara gunung-gunung. Masih ingat kan Kak? Ketika itu Ayah dan Ibu mengajak kita ke sawah. Ayah bilang, Ibu juga bilang, kita seperti matahari. Ibu mengatakan kita adalah anak yang kuat. Dulu aku tidak mengerti dengan apa yang Ibu ucapkan. Saat itu aku terlalu asik merasakan sinar matahari yang hangat. Yang mengusir embun beserta aroma rumput yang basah.”

“Dulu cinta begitu banyak. Tidak pernah sedikitpun aku merasakan sendirian. Kau tau kak?”

Aku diam saja. Meletakkan koran, dan membiarkan dia melanjutkan.

“Ayah membuatku hangat, Ayah membuatku kuat, serta berani berharp hanya dengan melihat punggungnya. Ibu membuatku ceria dan penuh rasa. Ibu membuatku mengerti apa itu menyayangi dan arti sebuah pelukan. Pelukan yang membuatmu tegar.”

Posisi kami masih saja sama. Di rumah saat itu hanya kami berdua, istriku masih belum pulang berbelanja. Beberapa saat ke depan juga masih sama, Pelita masih menyenderkan kepalanya ke bahuku. Hanya saja, kini jarinya meremas lenganku lebih kuat.

“Kau tau kakak? Kau juga mengambil bagian.”

“Eh?” Aku terkejut.

“Kau, kakak. Membuatku merasa aman. Membuatku ingin seperti kakak. Apapun yang terjadi, aku ingin seperti kakak.”

“Pelita…” Lirihku bersuara.

“Maka kak, bisakah kali ini kita berbicara tentangku saja?” Aku bisa merasakan getir yang sedang Pelita kecap.

“Sungguh aku tidak ingin jauh darimu Kak. Kau satu-satunya keluarga yang kini aku punya. Ini bukan berarti aku menghilang untuk selamanya. Tidak. Tidak secepat itu.”

“Pelita!” Sontak suaraku meninggi.

“Bisa kan kak? Kali ini saja, kita berdua duduk berbicara tentang apa yang aku inginkan, tentang apa yang bisa kita perbuat. Dan aku perbuat.”

Sigh. Apa yang coba kau katakan Pelita?

“Ki…kita berdua tau kenyataanya… Ini hanya masalah waktu. Apapun yang kita perbuat, tidak akan bisa menyembuhkan aku. Tidak dengan jarum, tidak dengan tablet, atau sirup, atau apapun itu.” Suara Pelita mulai bergetar.

“CUKUP!” Bentakku.

“Dan kau kakak… Terima kasih… Untuk tidak menyerah… Meski kita berdua tau pada hasil akhirnya…” Pelita bicara sambil menahan tangis.

“PELITA!! Apa yang kau harapkan?! Tentu saja, Tentu saja… AKU TIDAK AKAN MENYERAH PADAMU!!” Emosiku meledak, air mataku tanpa izin keluar begitu saja.

“Kakaaak…” Getir Pelita.

Aku diam, bila satu kata saja keluar dari mulutku, aku akan terisak. Napasku yang pendek akan terdengar. Aku… tidak ingin terlihat menangis di depan Pelita.

“Kakak… Itu sudah cukup… Aku… Juga sudah cukup…”

“Apa yang kau pikirkan? Kau tidak bisa menyerah sementara orang lain berharap padamu! Kau tau itu kan, Demitria Pelita!!” Aku marah. Tapi juga sedih.

“Tidak kakak. Aku kini begitu kuat, berkat Ayah… Ibu… Dan kau… Kakak…”

Apa maksudmu Pelita? Apa maksud semua ini?? Pelita, kau BODOH!

“Aku sudah cukup kuat kak. Menerima ini semua…”

“Menerima? Menerima kau bilang!??” Meledakku dibuat Pelita. Tapi tidak berhadapan kami berbicara. Kami masih dalam posisi yang sama.

“Ku mohon kak… Jangan membuat ini menjadi lebih sulit… Aku tidak ingin kelak ketika aku mati, kau masih dalam rasa tidak ingin melepaskanku. Rasa tidak ingin meyerah…”

“Kini semua tentang aku bukan? Aku rasa… Kau juga harus belajar menyerah kakak…” Pelita dan aku menangis begitu saja.

“Cih…. Ba… Bagaimana bisa kau mengharapkan aku menyerah Pelita…!??” Air mataku semakin deras. Mengetahui seseorang akan mati menjadi jauh lebih menyakitkan daripada terkejut karena tiba-tiba orang itu sudah mati. Mungkin itu mengapa Tuhan mencoba menyimpan rahasia kematian rapat-rapat.

“Kini kak… Aku hanya ingin… Hanya ingin menulis saja… Tapi tidak bisa ku lakukan di tempat seperti ini…. Tidak dengan semua pengobatan-pengobatan itu… Imajinasiku kontan menjadi tumpul…” Rintih Pelita.

“Maka kak, biarkan aku pergi… Toh aku belum akan mati kak… Tidak sebelum kau mengerti…”

Aku ingin membantah, tapi suaraku tersedak. Terlalu penuh dengan rasa sedih dan perih yang menyayat hingga tenggorokan.

“Kini yang menjadi pembeda hanyalah…. Apa yang aku lakukan… Sebelum saat itu tiba… Bisa saja aku berbaring lemas… Atau… Aku bisa saja menulis.” Lanjut Pelita.

“Maka biarkan aku ikut denganmu…” Balasku.

Pelita tersenyum, kini dia berani menatap mataku. Aku pun begitu. Pipi kami berdua basah. Bibir kami berdua dengan mudahnya bergetar.

“Tidak. Kau tau aku tidak akan membiarkannya. Kau tau, kau punya kehidupanmu sendiri, Kak…” Senyum Pelita.

Bodoh!! Bodoh!!! BODOH!!! Mengapa saat itu aku mengiyakannya??

Aku mencoba secepat mungkin sampai pada tempat Pelita. Disana sudah ada Wanda yang menemaninya selama ini. Pada keesokan harinya setelah malam itu, Pelita pergi jua, dia ingin menyelesaikan roman terakhirnya.

Hari ini, beberapa jam yang lalu, Pelita menelponku dengan suara yang lemas.

“Kak…” Sapa Pelita.

”Pelita?”

“Apa kabar kak…?” Tanyanya lemah.

“Baik… Kau? Apa kabar…?”

Senyap… Tidak ada suara terdengar selain napas Pelita yang pendek.

“Aku… Aku rasa… Hari ini kak…” Rintih Pelita.

“Apa…?” Tanyaku heran.

“Aku akan mati hari ini kak…” Jawab Pelita.

“Apa yang kau bicarakan Pelita!” Aku terkejut. Keringatku keluar dengan cepat.

“Kaakk… Bisa kah kau menolongku kak…?” Suara Pelita semakin lemah di telepon.

“Diam kau Pelita! Aku akan ke sana sekarang!” Bentakku keras.

“Kaakk…. Jangan matikan teleponnya…” Balas Pelita.

Aku diam… Bukan tidak ingin menjawab. Tapi tubuhku bergetar dengan begitu kuat. Bagaimana bisa, aku yang begitu kuat, tapi mejadi lemah ketika mendengar suara Pelita yang begitu jauh, begitu lemas. Bisa ku dengar suara burung, air, bahkan suara semilir angin sesekali muncul. Aku ingin bicara, tapi tersedak.

“Kak…?” Tanya Pelita.

“Hehmm.” Ujarku mengiyakan, dengan tangan yang menutupi mulut.

“Kau mendengarkan kan…?” Tanya Pelita sekali lagi.

“Hehmm.”  Pelitaaa!!!

“Bisa kah kak? Kali ini… Kau menyerah?” Isak Pelita.

“Biar… Aku juga… Tenang…” Lanjutnya lagi.

Aku langsung mematikan telepon saat itu juga. Berangkat tanpa membawa apa-apa. Pelita, kau begitu bodoh!

Ini tikungan terakhir. Sampai pada rumah Wanda, di mana Pelita tinggal. Aku bergegas tanpa mematikan mobil, tanpa menutup kembali pintu mobil, berlari masuk ke rumah dengan pintu yang sudah terbuka. Sampai di dalam, aku melihat Pelita. Pelita dengan tubuh yang membengkak dimana-mana. Bahkan wajahnya membentuk bulatan sempurna. Lupus sudah menggerogotinya. Hanya ada Wanda dan beberapa orang lainnya di situ.

Dengan wajah penuh air mata, Wanda menghampiriku, memberikanku naskah terakhir dari Pelita.

“Sampai detik terakhir… Dia menunggumu menelponnya… Untuk… Mendengar…” Wanda Terisak.

“Kata menyerah dan merelakan darimu… Pelita berjuang keras…” Wanda menangis sejadinya.

Apa? Apa yang kau bicarakan Wanda?!

Aku bersumpah!

Aku bersumpah beberapa saat yang lalu aku mendengar Pelita memanggilku!

Aku bersumpah, aku melihat kepalanya menoleh ke arahku!

Aku bersumpah, aku benar-benar bersumpah!

Lantas, mengapa orang-orang berengsek ini menutupi wajah Pelita?!

Pelita belum mati!!

Belum!!!

PELITAAA!!!

Mengapa Pelita? Mengapa? Kau bersikeras melewati ini sendirian?? Padahal… Aku ada?

2 Comments

Filed under .Punggawa.

Punggawa, 14 Chapters Left. Perempuan Buncit.

Sudah ku diamkan ini beberapa kali. Aku tidak lagi dapat menahannya lebih jauh. Tak cekatan kah matanya melihat rahangku yang bergerak ketika aku melihatnya tajam? Dia berpikir bisa berlaku seenaknya saja? Dia pikir aku tidak sensitif? Kenapa harus bicara lantang pada bukan siapa-siapa jika baru saja aku berbicara dengannya? Selain merebut teman-temanku, dia bahkan menganggapku seperti debu. Tunggu saja.

Selang sehari. Biasanya selang sehari dia pergi ke tempat ini. Dia maniak film. Selalu saja menyempatkan diri untuk melihat koleksi film-film baru. Bila dia tidak ada di tempat ini, berarti besar kemungkinan dia bermain bowling, atau sekedar tidur membesarkan perutnya yang berisi kebusukan biar semakin buncit di rumah. Selain itu, tiap seminggu sekali dia pergi makan di luar bersama teman atau kekasihnya. Aku sudah lebih dari dua bulan ini memperhatikan semua aktifitasnya. Sedang apa, dimana, kapan, bahkan aku hapal aroma parfumnya dari kejauhan. Harum bagi kebanyakan orang, tapi bagiku hanya seperti asam lambung yang meloncat naik hingga tenggorokan.

Kopi panas dengan cup yang lebih seperti kertas ini sudah ku diamkan cukup lama. Aku tidak ingin meniupnya, takut sedetik dari pandanganku terlewatkan bila dia keluar dari pintu itu. Bisa aku lihat dia disana bersama teman lamanya sedang tertawa terbahak-bahak setelah menelan escargot. Makanan favoritnya. Escargot. Maka ku biarkan saja tanganku melingkari cup ini dengan harapan kopi ini sudi membagi hangatnya. Huh. Wanita jalang, tertawa kini dia?

Ku rapatkan resleting hingga menyentuh dagu. Jaket hitam tebal yang menutupi tubuhku seakan memiliki banyak celah. Entah kenapa angin dengan mudahnya menerobos masuk begitu saja. Tapi aku tidak memperdulikan itu semua. Mataku juga tidak berkedip. Malah sebaliknya, aku melotot kuat-kuat ke arah wanita itu yang hanya berjarak sekitar sepuluh meter. Bila dia menoleh ke arahku, tidak ku alihkan pandanganku ini. Tetap saja aku melotot ke arahnya. Biar dia merasakan teror yang aku beri.

Tentu saja. Tawanya kini mulai berkurang. Dengan gelisah, sesekali dia melihat lagi ke arahku yang seperti patung. Diam saja melotot ke arahnya. Sesekali aku menggerakkan rahang. Betapa aku ingin meraihnya sekarang. Betapa inginnya aku merobek baju dan perutnya hingga tenggorokan. Menyayat bibirnya kemudian menciumnya. Meski jauh, aku tau dia bisa merasakannya.

Tidak. Temannya tidak akan mungkin menemaninya. Karena sebentar lagi, aku tau, temannya akan pergi menonton bersama kekasih mereka berdua. Kini mereka berdua duduk disitu meski tidak ada lagi makanan di hadapannya karena menunggu kekasih mereka berdua yang selalu saja datang terlambat. Selalu datang lebih dari jam sembilan malam. Meski mereka selalu berjanji untuk bertemu pada jam sembilan. Tentu saja. Tentu saja demikian. Itu karena sang kekasih pergi terlebih dahulu ke arah selatan. Mengantar selingkuhannya pulang kerja.

Ketika kekasih temannya itu datang, aku segera masuk ke dalam mobil. Kaca mobil sengaja aku buat lebih legam dari sebelumnya. Kini aku ingin meneror perempuan buncit itu dengan diam-diam. Gelisah masih saja menghantuinya. Aku tertawa kecil. Melihat sang kekasih kini menyentuh pantat perempuan buncit itu. Bahkan si perempuan buncit tidak mengatakan apa-apa. Mereka bertiga hanya tertawa sekenanya. Terbayang sekarang betapa busuknya isi perut perempuan itu?? Seberapa banyak sebenarnya selingkuhan pria dengan anting hitam itu? Sejauh yang aku tau sekarang, hanya dua.

Gelisah yang dari tadi aku kirimkan membuatnya merasa gerah dan ingin segera pulang ketika matanya tak lagi melihatku. Aku memperhitungkan semua. Dari parkir mobil yang aku taruh di sudut kiri, dekat dengan pertigaan. Membuatnya tidak dapat melihatku masuk ke dalam mobil karena ada tiang yang menghalangi ketika mereka berdiri saling bertukar kecupan saat bertemu. Aku bahkan sudah ada di sekitar sini dari dua jam yang lalu. Menunggu parkiran itu kosong dan meletakkan mobilku di sana. Kini, hanya mencondongkan sedikit badanku ke depan, bisa ku lihat perempuan buncit itu sedang tertawa terbahak-bahak. Bila aku bersandar dengan sedikit melandaikan sandaran kursi, aku bisa dengan jelas melihatnya kini keluar dari rumah makan itu dan melambaikan tangan kepada teman dan kekasih mereka berdua.

Aku menyalakan mesin bersamaan ketika dia juga menyalakan mesin. Terlambat dua-tiga detik tidak menjadi masalah. Dia tidak akan menyadarinya karena biasanya dia akan langsung menyalakan tape yang ada di dalam mobil. Aku tidak akan membuntutinya. Tidak. Aku punya ide yang lebih cemerlang. Di kursi belakangku ada anjing yang dari tadi menahan perihnya luka yang ada di kakinya. Tidak hanya raungan perih. Takut juga dirasakannya, karena kini dia hanya berjarak sedikit dengan aku yang menyayat kuat kedua kaki depannya.

Aku mendahului perempuan buncit itu. Di jalan sepi satu-satunya yang harus dilewatinya, aku berhenti. Aku menerobos semak-semak dan meninggalkan mobil itu dengan kap yang terbuka. Aku menoleh jam tangan, merasa lega karena aku tidak terlambat. Seperti biasa, perempuan itu berkendara paling cepat empat puluh kilometer per jam. Aku lebih cepat sepuluh menit darinya.

Aku mengeluarkan anjing yang ada di kursi belakang. Anjing itu diam. Tidak mau banyak bertingkah karena rasa takutnya yang luar biasa. Aku menaruhnya di tengah jalan. Ketika aku ingin bersembunyi di semak-semak, hanya dua langkah aku menjauh, aku berpikir bahwa anjing ini masih kurang memprihatinkan. Maka ku dekati anjing itu, ku pegang kuat rahangnya, pisau di tangan kananku sudah siap menusuk matanya yang hitam. Tapi tidak aku lakukan. Aku malah takut perempuan buncit itu melayangkan pandangan jijik dan tidak akan berhenti.

Waktuku tinggal dua menit lagi. Aku kembali ke dalam mobil, mengambil seekor anak anjing yang dari tadi meringkuk di bawah kursi belakang. Menaruhnya dekat dengan induknya, kemudian membiarkan anjing-anjing itu berdua saling mengendus satu sama lainnya. Ku tinggalkan begitu saja di tengah jalan.

Semak ini begitu sempurna untukku. Aku bahkan harus menunggu lebih lama agar semak ini cukup tinggi sehingga aku tidak harus duduk. Berdiri saja bisa, biar aku langsung berlari menghampiri si perempuan buncit ketika dia turun dari mobilnya. Sehingga aku bisa menghemat beberapa sepersekian detik.

Tak lama kemudian cahaya mobil dan deru mesin mobil tua perempuan buncit itu terdengar merdu menghampiri.  Sesuai dengan perkiraanku, dia berhenti. Dia tidak akan parkir atau mematikan mesinnya terlebih dahulu. Dia akan langsung menyeruak keluar untuk sedekat mungkin pada anjing itu. Itu karena perempuan buncit lebih menyukai anjing daripada escargot. Ketika dia keluar, masih dengan tangan kiri yang menyentuh pintu mobil, aku berlari keluar. Pisau di tangan kananku ku genggam kuat. Aku menanggalkan topi dan jaket yang aku pakai dari tadi. Aku menyeringai lebar, dengan mata yang melotot, dan gigiku bersentuhan atas dan bawah. Seringaiku makin lebar ketika aku semakin dekat. Aku berlari tanpa bersuara. Hanya membiarkan angin membawa napasku yang menggebu-gebu. Membiarkan dia merasakan teror sebelum ini berakhir.

Dia yang terkejut hanya bisa membeku dalam malam. Anjing yang dari tadi meringis kini mengonggong kuat-kuat. Aku menancapkan pisau tepat di bawah payudara kanannya. Aku tertawa kecil tepat di telinga kirinya. Sesaat kemudian aku mendengar mesin mobil dan cahaya dari kejauhan. Perempuan buncit itu terkejut. Aku rebahkan dia di atas kap mobilnya, aku tancapkan lagi pisau ini di bahu kirinya. Dia ingin mengerang, tapi entah kenapa tidak ada suaranya yang keluar. Jangan mati dulu kau perempuan buncit!

Berlari ku menghampiri anjing-anjing itu. Dengan kaki aku seret sang induk masuk ke bawah mobil, dengan suaranya yang meringis seperti menangis. Anak anjing menjadi ribut, aku tendang jauh-jauh biar masuk dalam semak-semak. Ada yang ingin lewat. Mobil hummer sepertinya. Pastilah laki-laki yang mengendarainya. Aku yang setengah panik mendirikan perempuan buncit itu. Tangan kananku menarik rambutnya sekalian menahan kepalanya. Tangan kiriku mencabut pisau dan menanamkannya ke dalam perut buncit perempuan yang busuk. Kemudian aku pindahkan tangan kiriku, meremas pantatnya kuat-kuat. Kemudian, aku mencumbu bibirnya.

Ketika mobil hummer tadi begitu dekat, semakin bernafsu aku menciumnya. Mungkin ini yang menyebabkan laki-laki beranting hitam itu selingkuh dengannya. Banyak lemak yang menggiurkan di bibir perempuan buncit ini. Dengan memeluknya, membuat pisau tertusuk semakin dalam. Tanpa ada penerangan jalan, membuat pengemudi hummer itu tadi menurunkan jendelanya dan bersiul menggoda kami berdua. Kemudian? Si bodoh itu lewat begitu saja.

Mulutku basah dan amis karena darah yang keluar dari mulut perempuan buncit itu. Aku terkejut dengan semua perbuatanku. Kenapa? Kenapa ini?? Kenapa ini bisa terjadi?? Kenapa perempuan buncit-busuk ini mati terlalu cepat?!

Leave a Comment

Filed under .Punggawa.

Punggawa, 15 Chapters Left. Punggung Ayah.

Aku lari-lari kecil. Payung hitam satu-satunya yang ada di rumah ku pegang kuat-kuat. Anginnya kencang. Beberapa kali aku harus tertahan karena angin yang terlalu kencang membawa payungku ke belakang. Bahkan sepertinya sanggup membuatku terbang.

Aku gelisah. Seharusnya sekarang aku sedang bersantai di rumah Bambang sambil menonton televisi barunya. Tapi aku sekarang malah disuruh Ibu untuk menjemput Ayah yang terjebak hujan di mesjid. Jengkel bukan? Memangnya tidak bisa apa Ibu saja yang menjemput Ayah. Kenapa harus aku?? Ah! Masih kesal aku menjemput Ayah. Dengan sadar wajah ku tekuk. Ibu kelewatan. Ayah juga.

Sesampainya aku di mesjid, ku tengok ke dalam, namun Ayah tidak ada di dalamnya. Aku bahkan sampai kelilingi mesjid itu. Tapi aku belum juga menemukan Ayah. Ayah dimana sih?? Aku kan ingin segera menonton televisi barunya Bambang… Ayah payah. Terlebih lagi Ibu. Ini semua kan karena Ibu.

Aku kedinginan sendirian di luar sini. Memang tadi hujannya belum sederas ini. Tapi tiba-tiba saja hujan berubah menjadi lebih deras. Anginnya begitu kencang. Daun berwarna hijau saja sudah banyak yang jatuh tertiup angin. Padahal Ibu bilang daun berwarna coklat yang akan jatuh. Huh.

Ayah di mana sih?? Kedinginan aku diluar, dan karena hujan yang sebegitu derasnya aku lantas masuk ke dalam mesjid. Basah dari jari kaki sampai lutut. Baju baru yang ingin ku pamerkan kepada Bambang juga basah. Kaaan, Ibu sih.

Ternyata di dalam mesjid ada seseorang yang keluargaku kenal dekat. Di tempatku tinggal dia biasa dipanggil Kaum. Seorang penjaga mesjid. Kadang dia sendiri yang adzan, dia pula yang menjadi imam. Sungguh kasihan. Setidaknya begitu cerita Ayah.

Aku mendekatinya, menarik baju kaum yang sedang berbalik mengambil sapu. “Om..Om… Tau nggak di mana Ayah Fithra..?”

“Oh, Ayah Fithra sekarang lagi di balai desa. Lagi ada pengajian disana…” Jawab kaum sambil membelitkan sarungnya ke pinggang.

“Yaaahh…” Desahku pelan.

“Memangnya kenapa..?” Tanyanya lagi

“Nggak apa-apa om… Fithra kan ke sini mau jemput Ayah…”

Kaum tersenyum, menyentuh kepalaku, mengusapnya kemudian. “Fithra tunggu di sini dulu aja yaaa…”

Mengangguk dongkol aku duduk di mesjid. Sedangkan kaum beres-beres mesjid sekarang. Hari sudah lepas Isya. Jarak rumah ke mesjid sebenarnya dekat saja. Ibu memintaku menjemput Ayah karena memang tidak ada lagi yang bisa disuruh. Ibu khawatir Ayah terjebak hujan sehingga sulit untuk pulang. Pergi dari rumah tadi Ibu sibuk menimang Pelita yang menangis karena demam.

Aku duduk. Sesekali aku mendongakkan kepala agar bisa melihat kejauhan. Sekedar berjaga-jaga bila Ayah datang. Sungguh sampai sekarang aku masih ingin melihat televisi baru Bambang. Meski sudah mulai larut malam. Tak lama kemudian aku merebahkan badan di mesjid. Kaum yang melihat aku merebahkan diri, membawakanku sarung berwarna cerah untuk melindungiku dari dingin.

**

Kepalaku goyang. Setengah sadar aku mencium tangan seseorang. Sepertinya itu kaum. “Fithra pulang dulu ya oom…” Itu suara Ayah…

Kepalaku masih saja goyang. Aku masih mengantuk. Namun masih bisa ku lihat di bawah dagu ada sarung kaum yang berwarna cerah. Kesadaranku kembali ketika Ayah membuka pintu mesjid yang berdecit, disambut dengan riuhnya suara hujan.

Eh? Rupanya aku digendong Ayah. Ayah menahan pantatku dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang payung melindungi kami dari hujan. Ayah membiarkanku bersandar pada belakang tubuhnya. Membiarkan aku menjatuhkan kepala pada punggungnya. Punggungnya yang basah kuyup. Tidak hanya itu, badannya masih berasa basah. Seperti lantai yang baru selesai dipel. Agaknya Ayah kehujanan karena mencariku. Kehujanan karena payung kami hanya satu.

“Fithra bangun sayang…?” Tanya Ayah.

Mendengar Ayah menanyaiku, aku langsung saja kembali menaruh kepala di punggung Ayah. Menyandarkan kembali tubuhku secara tiba-tiba. Aku tidak ingin Ayah memintaku berjalan pulang berdampingan. Aku ingin seperti ini saja.

“Fithra…?” Panggil Ayah lagi.

Ah, Masa bodoh dengan televisi baru Bambang. Masih bisa besok. Punggung Ayah sekarang jauh lebih menggoda. Meski lembabnya terasa, aroma punggung Ayah tidak berubah. Meletakkan kepala di antara belikat di punggung Ayah… Kalau Bambang bilang, ini itu “Rrruaaarrr biasa!!!”.

Leave a Comment

Filed under .Punggawa.

Punggawa, 15 Chapters Left. Dua (ber)Saudara

Notebook baru saja kumatikan. Aku berpakaian dan berdandan terburu-buru. Beberapa kali ku lihat jam dinding, menginginkan jam berputar ke arah sebaliknya, menghitung waktu biar jam tidak korupsi. Mencoba meyakinkan diriku untuk tidak datang lebih terlambat dari ini. Setelah berdandan seadanya dan membiarkan rambut tergerai dengan hanya bando biru muda yang menahan poni di depan, aku langsung masuk mobil dan tancap gas.

Aku melihat handphone berulang kali. Takut bila dia menelpon, aku tidak mendengar. Takut bila ada pesan yang masuk, tidak segera ku baca. Tapi ternyata tidak. Dia tidak menelpon, tidak pula mengirimkan pesan. Ah, bukannya tenang, aku malah gelisah. Apa dia tidak jadi datang?

Secepat mungkin aku berkendara biar dalam hitungan detik sampai. Setibanya disana aku parkir sekenanya, dan langsung masuk ke rumah makan. Mataku membelalak mencari-cari dimana dia. Sejauh mata melihat, tidak terpampang pria bertubuh tegap dengan rambut lurus. Tidak terpampang pula laki-laki dengan bibir kemerahan dan mata yang sipit. Penuh kebingungan harus mencari dari mana, seorang resepsionis mencoba membantuku dengan bertanya ke arahku.

“Maaf, saya mencari seseorang untuk saya temui.” Balas sapanya ku dengan malu-malu.

“Oh, seorang pria?” Resepsionis itu nampak tau segalanya.

“Iya.”

“Hari ini ada seorang pria yang memesan meja untuk dua orang. Apa dia yang mba’ cari?” Tanyanya memastikan.

Memesan? Dia sampai memesan meja untuk kami berdua? Apa dia pikir ini adalah kencan??

“Umm… Mungkin.” Jawabku ragu.

Resepsionis itu hanya tersenyum, kembali dia melihat catatan, “Sebentar, namanya…”

Ah iya. Benar, dari namanya bisa ku tau kalau D yang memesan meja. Tapi nama apa itu D? Frian pernah bilang itu hanya panggilan singkatnya saja. Tidak memiliki arti apa-apa. Tapi mungkin saja huruf itu menjadi perwakilan nama panjang yang dia punya. Mungkin saja nama sebenarnya Dimas, Doni, atau Dian seperti nama perempuan.

“Fithra Anugraha.” Resepsionis itu melanjutkan.

Aaah… Bukan, pasti bukan dia. Aku menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa itu bukan dia kepada resepsionis. Resepsionis menanyaiku, bila saja aku ingin untuk melihar orang itu dulu dari kejauhan. Ide bagus. Toh tidak ada salahnya untuk mencoba. Dia menunjukkan bahwa orang itu berada di beranda lantai dua. Tempat yang memang benar-benar sesuai untuk pasangan yang sedang kencan. Dimana dengan mudahnya melihat paparan gunung dan menghayati angin semilir di siang seperti ini. Betapa mudahnya melihat kilau lampu kota yang sudah seperti kunang-kunang berkeliaran di malam hari.

Aku berjalan santai menuju tempat yang ditunjukkan resepsionis tadi. Jemariku merogoh saku celana untuk mencari permen. Mendengar penjelasan dari resepsionis tentang meja makan kami nanti sedikit banyak membuatku gugup. Memasukkan permen di mulut bisa membuat pikiranku sedikit lebih tenag.

Meski logika bicara itu tidak mungkin. Kencan?? Tidak. Tidak mungkin.

Ketika melewati anak tangga yang ke delapan (aku terbiasa menghitung jumlah anak tangga ketika menaikinya), aku tidak juga menemukan permen di saku celanaku. Lebih dari itu, aku jadi teringat sesuatu. Sesuatu yang seharusnya aku sadari dari beberapa menit yang lalu. Sesuatu yang seharusnya tidak aku lupakan. Sesuatu yang dapat membuatku kehilangan bila melupakannya begitu saja. Terlebih bila aku ceroboh seperti ini. Oh Tuhan. Di mana kunci mobilku?! Sepertinya aku melupakan kunci mobil! Sepertinya masih menggantung pada pintu! Aku langsung berbalik dan bergegas menuju mobil.

Lega, ketika aku melihat mobilku masih ada pada tempatnya. Beberapa saat kemudian aku melihat pintu depan, tidak ada kunci yang menggantung. Oh tidak. Jangan bilang kunci itu tertinggal dalam mobil yang terkunci. Aku bahkan sudah tidak lagi memilki kunci serepnya! Beruntung pertanyaan-pertanyaan dan kepanikan itu lenyap ketika seorang bapak menanyaiku seperti di film komedi.

“Ini yang dicari mba’?” Sesambil jari-jarinya memainkan kunci mobilku.

Lega seribu bahasa. Sehabis mengucapkan terima kasih, aku langsung saja kembali ke dalam rumah makan. Bagaimanapun juga aku sudah terlambat. Aku khawatir dia sudah datang dari tadi, namun memutuskan untuk pergi saja karena menungguku terlalu lama. Buru-buru aku berjalan, aku bahkan tidak sempat lagi menghitung anak tangga.

Sesampainya di lantai dua, dengan cepat dapat ku temukan dia diasna. Setengah memeluk tas hitamnya, sedang memasukkan amplop berwarna coklat. Ah? Apa itu artinya dia baru saja ingin pergi dari sini??

Aku berniat mengejutkannya, maka dari itu aku tidak memanggilnya dari kejauhan. Tapi ini malah sebaliknya. Tiba-tiba aku terhenti. Kakiku sepertinya gemetar. Ketukan di kepalaku semakin kencang. Wajahnya yang dewasa seperti sekarang ini, dan sebutan nama seorang pria dari resepsionis, satu-satunya pria yang sedang menunggu di rumah makan ini… Membuat jantungku berolah.

Debar jantungku semakin kencang. Bisa kurasakan keringat di kening bergerak perlahan menuju pipi. Mungkinkah itu… Kakak…?

Seisi dadaku tidak lagi bisa dijabarkan. Seperti isi tubuhku berpencar-pencar. Seperti lambung yang menempati posisi jantung, karena tiba-tiba jantungku seperti dipenuhi asam. Seperti paru-paru yang ada di posisi usus sekarang, karena perutku sesak. Perutku seperti sesak napas. Tetap dengan pandangan kosong, kaki gemetar ini terus saja bergerak perlahan menuju ke arahnya. Bisa kurasakan bunyi-bunyi tulang bergemiricik karena aku gemetar. Lebih seperti ketukan gigi-gigi karena dingin telah setubuhi gusi.

Kini tepat aku di depannya. Dia nampak terkejut ketika melihatku yang tersenyum menyeringai karena memaksa tulang pipiku beranjak dari rasa kejut. Senyumnya pun menjadi aneh. Tapi sekilas dapat kulihat kami begitu mirip bila tersenyum seperti ini. Hanya saja rambutku lebih ikal.

Setengah tidak percaya, akhirnya aku berhasil menyapanya jua. “Kakak…?”

Dia spontan terkejut. Kami terdiam beberapa saat kemudian, membiarkan mata kami melihat wajah yang tumbuh jauh dari terakhir kami masih bertegur sapa kakak-adik dulu. Matanya menjadi berbinar dua detik kemudian. Terus saja kami saling pandang.

“Demitria Pelita. Aku Demitria Pelita.” Ucapku meyakinkannya.

Kami berdua tersenyum lebar. Bisa ku rasakan mataku kini berbinar. Mungkin bila kami bercermin bersampingan sekarang ini bisa dilihat kami begitu mirip. Tentu aku harus melepaskan kacamata ini dulu.

“Duduk.” Lantas dia menyuruhku duduk tepat di depannya dengan pembatas satu meja persegi kecil lima centi di atas lutut.

Menggeser kursi dan duduk, aku mencoba sebisa mungkin bersikap nyaman. Terus terang aku tidak tau harus berkata apa. Namun dia masih tersenyum. Aku tau apa yang dipikirkannya. Sudah sedekat itu, sudah selama itu, baru sekarang kami menyadari bahwa kami ada dua bersaudara??

Senyumnya tiba-tiba menipis. Dicondongkan badannya ke depan. “Sekarang, mau kita mulai dari mana?”

Leave a Comment

Filed under .Punggawa.

Punggawa, 16 Chapters Left. Dua Saudara.

Sulit. Memang benar-benar sulit. Aku sendiri pernah mencobanya. Bahkan aku tidak menulis sepenggal cerita. Hanya berusaha berpura-pura membuat satu lirik lagu yang memiliki ujung frasa yang terdengar mirip namun memiliki arti yang baik. Itupun hanya arti yang baik, bukan arti yang indah atau membuat orang ingin mendengarkan lagu itu berulang kali karena liriknya yang menggoda untuk diucapkan. Tidak. Itu terlalu sulit.

Huh. Apalagi dia yang membuat satu buku roman? Menurutku, hidupnya terlalu penuh dengan romansa percintaan jaman dulu yang meluap-luap. Sehingga mampu tangannya berbicara banyak tentang roman sana-sini.

Berada di tengah, di pojok sebelah kanan sana, band blues membuka penampilan mereka dengan lagu pelan dan ketukan gontai. Lagu lama yang bila dilihat cover kasetnya pastilah berhiaskan kata cinta atau gambar cinta. Judulnya pun pasti mencantumkan kata cinta. Band muda bertopeng lama itu membawakan lagu Because You Loved Me. Aku duduk saja di kursi jati coklat yang dibiarkan tanpa ada lapisan apapun. Sandaran kursi ini membentuk pola huruf omega dengan minimnya ukiran ataupun hiasan. Berasa tidak nyaman untuk bersandar lama di kursi ini. Aku berpikir ini mungkin memang sengaja dibuat demikian agar tidak ada pengunjung yang berlama-lama disini. Selesai menyantap makanan, biar langsung saja pergi. Atau mereka yang berniat berlama-lama disini membalik pikirannya dan bergegas pergi ketika punggungnya terlalu pegal untuk kompromi.

Ku toleh telepon genggam, membaca sekali lagi pesan terakhir yang masuk. Pesan permisi karena dia akan datang terlambat kali ini. Dia membuat bab terakhir dari romannya dan menginginkan aku membacanya terlebih dahulu untuk mendengarkan apa komentarku terhadap roman yang telah dia buat.

Sebenarnya aku sendiri yang baru membaca pesan masuk itu setelah berada di tempat kami seharusnya bertemu lima belas menit yang lalu, juga datang terlambat. Aku cepat jengah dengan kebosanan. Aku tidak dapat membuangnya begitu saja. Tidak dengan lagu yang dimainkan band blues ini. Aku tidak dapat mengikutinya, aku memang tidak dapat menyanyikannya sehingga membuat bosan enggan enyah begitu saja. Saat menghela napas panjang mataku teralihkan pada tas ransel hitam yang aku bawa.

Bergerak maju menggeser kursi kayu, aku membuka tas dan memperhatikan segala sesuatunya yang dapat membuatku membunuh kebosanan. Aku perhatikan tidak ada barang yang menarik untuk dijadikan pengalih kebosanan. Hanya ada beberapa buku catatan kecil dan amplop coklat besar miliknya yang dititipkan Frian kepadaku. Nampaknya berisi berkas yang tertinggal di pesta terakhir memeluk jompo.

Aku masih memangku tas, baru seperlima amplop coklat tersebut keluar dari tas, saat itu juga dia datang. Aku yang berniat mengintipnya untuk mengalihkan rasa bosan mendadak terkejut. Aku memaksakan sedikit senyum. Senyum dengan ujung bibir terangkat sekenanya, senyum terpaksa karena tertangkap basah.

Sejenak aku berpikir dia melihat kearah kerah bajuku yang kekuningan. Tapi tidak. Dia melihat kearah amplop coklat besar yang buru-buru aku masukkan kembali ke dalam tas. Saat amplop itu telah masuk ke dalam tas, dia masih saja melihat amplop itu seolah pandangannya dapat menembus tas hitam yang menutupinya. Alamak… Sepertinya dia sadar bila itu memang miliknya. Mungkin Frian sudah menelponnya dan memberitahukan terlebih dahulu bila amplop itu dititpkannya kepadaku.

Masih berdiri, dengan ekspresi aneh yang aku lihat dari wajahnya. Otot kecil otakku membuatnya berlari kecil untuk berpikir. Apa yang hinggap sekarang di wajahnya? Rasa marahkah? Sedihkah? Atau mungkin senangkah? Tidak dapat ku terjemahkan dengan jelas. Sesaat kemudian aku sadar bahwa bukan itu semua. Ekspresi itu bukan marah, bukan sedih, bukan pula senang. Sesaat kemudian aku tersadar itu ekspresi apa. Saat kemudian dia memanggilku, “Kakak…?”.

Aku mengerti sekarang itu ekpresi apa. Bingung yang beraduk nuansa kejut. “Eh??”

Leave a Comment

Filed under .Punggawa.

Punggawa, 17 Chapters Left. Bab Terakhir.

Aaah… Kau masih saja sama. Dari dulu hingga sekarang, masih sama bertingkah seperti itu. Apa yang membuatmu menjadi seseorang yang begitu sulit untuk aku tebak? Apa karena kita begitu berlawanan? Yang mana aku koleris-sanguinis, sedangkan kau melankolis-phlegmatis. Kita memiliki debar yang sama. Saat takut, cemburu, meski saat berciuman. Hanya saja, rongga-rongga hatiku terlalu besar, sehingga dapat terdengar siapa saja. Sedangkan kamu, ya kamu, yang melankolis-phlegmatis, memiliki hati dengan timbunan kapuk. Bahkan telinga menjuntai tinggi ke atas seperti kelinci tidak akan bisa menangkap suara itu.

Sama saja. Kau tidak inovatif dan tidak berbeda. Masih sama seperti orang pertama kali aku kenal dahulu. Begitu berbeda dengan orang lain. Orang yang biasanya berubah di tengah-tengah hidupnya. Sedangkan kau? Masih sama seperti yang dulu. Sama seperti dulu aku ketika aku jatuh cinta lebih dalam kepadamu.

Aku sedang menulis di tengah taman kita, yang kau suka. Anak kucing bahkan bertambah tiga sekarang. Kita selalu bermimpi untuk menyelesaikan hidup dengan taman yang sederhana. Taman yang hanya dipenuhi tanaman perdu dan rumput. Mungkin dengan tambahan beberapa pohon besar di luar pagar. Taman selalu membuatku ingat ketika kita duduk di suatu malam. Ketika kita belum menjadi sepasang kekasih. Ketika kita saling memegang tangan dan aku yang enggan menatap matamu. Namun gelagat dan ekspresi wajahmu yang tenang membuat debar jantungku meloncat berirama dengan pelan. Satu-dua-tiga kali, sampai akhirnya mataku mau bersalaman dengan matamu yang berlapis lensa kontak.

Aku bercerita banyak. Masa lalu yang kelam dan betapa sungguh aku inginkan kau mengetahui semuanya tanpa celah. Kau hanya sesekali mengangguk, tidak sekalipun berdecak, atau kakimu yang tidak bisa diam karena gelisah. Tidak. Kau tidak segelisah itu. Kau sebaliknya. Tidak bisa ditebak. Tenang dan masih saja menggenggam tangan. Aku merasa-rasa, tidak bertambah kencang juga tanganmu meremas ketika cerita sampai pada beberapa klimaks. Tidak pula menjadi lemas atau kaku atau berkeringat. Siapa kau? Robotkah?

Kau juga balik bercerita. Tentang lelaki yang mendekatimu saat itu. Dadaku sudah berdengung dengan tema yang akan kau bicarakan. Aku beripikir itu adalah teman satu kelas. Aku menunggu untuk mengetahui siapa namanya. Berharap bukan teman sekelas itu, namun isi kepalaku mengais-ngais dan berteriak, “Kalau bukan dia, siapa lagi??”

Iya, memang dia. Pasti dia. Pasti dia. Kau pernah mengangkat kursi di belakang untuk dapat duduk di sebelahnya. Kau sempat berucap pada seseorang di sebelah lelaki itu untuk menggeser tempatnya, agar kau bisa bersebelahan dengan laki-laki itu. Saat itu kita belum mengenal satu sama lainnya. Namamu juga belum terbaca kasat mata. Tapi aku sudah memperhatikanmu dari kursi yang berada di sisi berlawanan dari tempatmu duduk. Sisi yang dekat dengan jendela. Sekitar lima-enam baris dari depan.

Hatiku membeku kemudian dengan cepat mendidih tak sabar ketika aku bertanya siapa nama lelaki itu. Ketika kau sebut namanya, hati ini seperti besi panas dicelupkan dalam air penuh es. Lega. Aku bahkan tak mengenalnya.

Namun ceritamu selanjutnya membuatku tersadar. Beberapa hari ke depan, tanggal hitam ataupun merah, bukan menjadi batasan bila kalian berdua ingin bertemu. Aku juga belum mempunyai apa-apa untuk menggaris perbatasan. Tapi bibirmu begitu indah, sehingga ingin ku kecup saat itu juga. Bibirmu bergerak dan mengiramakan kata-kata yang bisa ku percaya. Bahwa kau tidak tertarik sedikitpun pada lelaki itu. Kau tau? Aku bahkan memiliki fotomu berdua dengan lelaki itu ketika suatu hari kita bermain basket bersama dia dan teman-temannya. Tidak sayang, tidak ada cemburu sedikitpun juga.

Berbeda dengan semua cerita-ceritaku. Mungkin kau dengan debar yang tertutup kapuk pasti berirama kencang ketika mendengar semuanya. Hanya saja, aku belum pandai meraba saat itu. Kita pernah bertanya dan tertawa ketika melihat seseorang bertanya pada sahabatnya, pertanyaan dengan gelak tawa. Pertanyaan, mengapa sahabatnya itu memperkenalkannya pada seseorang yang kini menjadi calon istrinya. Mungkin pertanyaanku kurang lebih sama. Aku inginkan bertanya ini kepadamu dengan telinga yang menempel di dadamu. Membiarkan kulit saja yang menjadi penghalang antara telinga dan debar jantungmu. Tanpa ada perantara udara. Aku ingin bertanya, “Mengapa kau menerimaku, setelah semua yang ku ceritakan kepadamu?”

Aku tersenyum saja bila mengingat hari itu. Kau tidak marah. Tidak membentak. Kau manusia terhormat dengan pandai menghormati orang lain. Kau lebih banyak diam. Membiarkan debarku berlompatan sendiri, membiarkan kau tau. Meski sebenarnya debarmu melompat lebih tinggi dari yang aku punya. Semua salahku bertransformasi menjadi angin. Kau bilang itu hanyalah masalah kecil dan membiarkan itu berlalu begitu saja. Namun aku tidak demikian. Kau yang tidak marah dan diam, membuatku diam-diam juga mencatat semua apa yang ku lakukan bila membuatmu sedih. Meski aku yang bobrok ini mengaku, jarang melihat kembali catatan itu. Namun aku sungguh-sungguh.

Kini lipatan tidak hanya ada di perut kita. Lipatan dan kerutan sudah menggerogoti wajah. Rambut putih menjadi dominan diantara hitam. Tidak seperti kebalikannya dulu. Batuk menjadi lebih parau. Telinga menjadi lebih pendiam, dan tulang-tulang kita seperti engsel berkarat. Kau sayang, di taman perdu dan rumput ini (dengan beberapa pohon besar di luar pagar), masih saja seperti dulu. Tersenyum bahagia dan menerimaku pada tempatnya. Menerimaku yang dulu, saat ini, dan kemudian hari.

Yang dulunya pacar, aku bagaikan drama dan sinetron. Sedangkan kau? Seperti dongeng pengantar sebelum tidur. Mencintaimu dengan seribu maaf.

Leave a Comment

Filed under .Punggawa.

Punggawa, 18 Chapters Left, Anak

Oke, baiklah.

Jujur sebenarnya, pertama kali mendapatkan tawaran menulis lepas di rubrik ini, aku mendapatkan banyak permasalahan dalam memberikan keputusan. Iya atau tidak. Ini sebenar-benarnya tidak lain karena aku sendiri yang tidak begitu mengerti akan menulis apa di dalamnya. Tak lebih dari dua jam kemudian, aku mengiyakan, dengan dua syarat. Pertama, aku tidak ingin tulisanku diedit sedikitpun.

Editor bilang, ini akan terbit pada hari anak. Tapi aku menolak. Aku memintanya untuk diterbitkan pada hari ibu. Pada penghujung bulan. Pada saat sedikit hati dari para anak-anak terpanggil untuk melakukan sesuatu. Itu adalah syaratku yang kedua. Beruntung mereka cukup berbaik hati mengijinkannya.

Oke, baiklah. Sedikit banyak, mungkin kau akan suka.

Keluarga. Tempat semuanya ada. Bahagia, sedih, pertentangan, amarah, semua emosi ada. Memang tidak ada suatu keluarga yang sempurna. Sebab itulah disebut keluarga. Sebab itulah menjajaki hidup berawal dari sini. Dari keluarga. Sebelum masuk lebih jauh ke dalamnya, ada hal yang ingin kau mungkin bisa perhatikan pada paragraf ini. Pada dua kata, ayah-ibu. Satu sakral yang ada pada ayah dan ibu. “Jika tiada Tuhan, merekalah yang harus kau sembah.”

No excuse, Ada imbuhan yang semestinya diimbuhkan pada ayah-ibu. Your Grace? Your Highness? Beberapa kata yang sering ditemui pada film-film barat kuno masa perperangan.

Simpan dulu. Simpan dulu pikiranmu tentang paragraf sebelum ini yang kau bilang berlebihan. Simpan dulu saja. Pikiranmu tentang mereka ayah-ibu yang juga manusia dan bisa melakukan kesalahan sama seperti kita. Bisa kau simpan dulu saja…?

Mungkin kau berkata, “memang benar mereka adalah orang tua, tapi bukan berarti mereka adalah pemilik dari tubuhku ini.” Atau, kau pernah bilang, “terlalu banyak mengatur, memangnya kenapa sih?”

Mungkin, mungkin saja kau pernah bilang mereka tidak pengertian, pemarah, kejam, atau terlalu banyak bicara.

Dalam mudanya usia, kau tidak pernah bisa melihat alasan perbuatan mereka itu semua. Alasan indah yang kadang ditunjukkan dengan rasa pahit atau asam. Seperti jeruk yang asam, seperti pil-pil obat yang pahit. Alasan indah yang disebut cinta.

Dalam mudanya usia, kau hanya ingin melihat permukaan. Tanpa lagi hasrat untuk menyelam jauh lebih dalam. Tapi tak lagi semua terjadi pada mudanya usia. Mereka yang lebih tua dari sebelumnya, kadang terjebak dalam lingkaran yang sama seperti dulu.

Terlalu singkat kah? Untuk mengatasnamakan semuanya dengan satu kata? Cinta?

Lihat lagi.

Mari ingat ketika, mereka yang bekerja keras, kau yang meminta uangnya. Iya bukan? Untuk apa? Siapa yang berani bilang, tidak pernah sedikitpun menggunakan uang itu untuk bersenang-senang? Aku pernah, dan aku yakin kau juga. Ingat lagi. Kau bersekolah, mengenal teman, mengenal lawan jenis, mengenal olahraga, persahabatan, mencontek, mengenal banyak hal. Semua bisa terjadi dengan uang bukan? Uang siapa? Uangmu kah saat itu? Jika iya, apa kau yakin itu semua bisa terjadi karena uangmu bicara? Uang. Itu yang ingin aku bicarakan saat ini. Pada paragraf ini. Kau ingin ini, ingin itu, tanpa melihat apa-apa terlebih dahulu, pastilah dengan uang. Uang siapa? Tak perlu aku jawab.

Sekarang, mari lupakan uang. Uang hasil dari jerih payah ayah-ibu untuk sebagian besarnya dipergunakan pada hal-hal yang tidak berguna. Atau hal yang berujung pada kesia-siaan. Mari berharap kau akan merasakannya kelak! Dengan gampang meminta bermacam-macam dengan seribu alasan busuk! Akhirnya apa?! Apa?? Masih berani kau berkaca??

Sekarang, mari benar-benar melupakan uang untuk paragraf berikut ini. Dulu kau pernah sakit bukan? Mungkin demam. Mungkin demam yang tinggi hingga membuat sekujur tubuhmu kejang. Kau tidak merasakannya, tapi ayah pada saat itu memasukkan jempolnya ke dalam mulutmu dan menahan sakit ketika kau menggigitnya hingga berdarah. Semua dilakukan agar lidahmu tidak terluka. Semua dilakukan karena apa yang biasa kau bilang berlebihan.

Ayah-ibu juga sempat menangis ketika kau mengigau terlalu banyak. Mengigau lepas dari operasi kecilmu. Lepas bius totalmu. Mereka juga telah pernah menyuapimu, menggendongmu, beberapa kali menahanmu dari jatuh, meski tak pernah kau sadar. Kebaikan-kebaikan itu selalu ada, selalu hadir, meski otak kiri-kananmu tidak pernah menangkap sinyal itu. Pada dasarnya, keinginan mereka kecil. Ingin kau sukses. Ingin kau bahagia. Ingin kau jadi jauh lebih baik dari mereka. Dan tidak pernah lupa akan mereka. Tidak begitu susah bukan? Dan jauh dari kata berlebihan bukan?

Lalu kenapa kau? Berani berdecak bila bicara pada mereka? Berani membentak?? Berani berkata kasar??? Atau melebarkan matamu kuat-kuat?

Berani kau memutuskan sesuatu terlebih dahulu tanpa restu dan ijin dari mereka? Sementara kau masih berada dalam tanggungannya?

Berani kau berkata lega ketika jauh dari mereka? Sementara mereka secara bersamaan menahan rindu.

Berani kau berbohong? Sementara mereka sudah tau dari lama kebohonganmu, namun tetap diam dan berharap kau akan bersifat terbuka.

You are fucking moron. Can’t you see those things??

Mengapa kau begitu sulit mengucap maaf? Begitu sulih mengecup keningnya? Pipinya?? Atau memeluknya??

Mengapa sekarang kau begitu ingin lepas dan jauh dari mereka? Mengapa kini kau begitu sulit? Mengerti cintanya meski cintanya tidak se-update  jaman sekarang. Mereka begitu kolot karena sayang padamu, karena tidak ingin sedikitpun kau terjatuh maupun terluka. MENGAPA KINI BEGITU SULIT MELAKUKANNYA?

Kau berlaku sia-sia sementara mereka berharap banyak padamu.

Kau berlaku seolah-olah mereka akan hidup selamanya.

Berapa umur mereka sekarang?

Enam puluh? Lima puluh? Empat puluh??

Berapa banyak sudah orang tua teman-temanmu yang meninggal dunia?

Berani kau berkata, masih panjang waktu untuk baktimu yang tidak berguna?

Hei anak muda, jika tiada Tuhan, siapa yang kau sembah??

1 Comment

Filed under .Punggawa.