Sial!! Sial!! SIAAAL!!! Apa yang dipikirkan anak itu?! Diam saja? Dan sekarang tiba-tiba memberikan kabar kepadaku? Setelah semuanya?? Sialaaan!!
Aku melaju cepat segera setelah mendarat dengan pesawat pada penerbangan pertama. Anak itu memilih pergi pada tempat yang sepi dan indah. Tapi… Tempat itu terlalu jauh untukku. Untuk aku capai dalam waktu segera.
Dia telepon bilang, itu tempat banyak gunung yang masih terlihat tanpa adanya bangunan tinggi, itu tempat udara masih ramah menjamah hidung, tempat suara air jatuh masih terdengar jelas, bahkan udara menjadi seperti embun pada pagi hari. Dia juga mengatakan itu adalah tempat di mana rumput yang mudah basah karena malam, tempat bintang yang dapat dihitung tanpa tertutup cahaya lampu jalan. Di tempat itulah, dia bilang akan menulis sampai akhir. Akan bercerita banyak pada seluruh dunia tentang mimpinya. Tentang roman terakhirnya yang dia tulis. Tentang kepercayaan, tentang kepercayaannya akan cinta yang mampu merubah dunia. Jauh dari benci, jauh dari perang hati.
Sudah ku bilang pada Pelita, untuk dekat saja denganku. Tapi tak lebih dari hitungan tahun bersamaku, dia malah menginginkan pergi. Dia tidak tahan dengan bising suara kereta lewat. Tidak tahan dengan udara panas dan membuat dada sesak. Pelita juga sudah muak dengan terapi-terapi yang membuat imajinasinya tumpul. Dia tidak ingin mejadi budak kasur.
Aku berkeras untuk tidak membiarkan dia pergi. Bahkan aku tidak akan segan untuk mengunci kamarnya dari luar bila dia memaksa. Tapi Pelita bukan orang yang seperti itu. Dia juga mengerti bila aku tidak bisa diperlakukan seperti itu. Pelita paling paham, tentang kekerasan tidak dapat dilawan dengan kekerasan pula.
Masih ingat aku pada malam itu. Ketika Pelita meyakinkanku untuk membiarkannya pergi. Aku ingat itu sekitar tiga bulan yang lalu. Dia bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku tidak gentar. Hatiku masih saja keras untuk tidak membiarkannya keluar dari pintu manapun. Keras. Aku membuat hati ini menjadi keras untuk bisa dia ketuk. Untuk bisa dia coba cari kelemahannya. Lantas, Pelita tidak diam saja ketika aku menolak permintaannya mentah-mentah.
“Tidak, tidak. Aku tau apa yang ada dipikiranmu Pelita. Lupakan jauh-jauh pikiran itu. Besok, lusa, dan mungkin seterusnya, kau akan terus ada di sini. Terus menjalani terapi itu. Terus.” Tolakku mentah-mentah.
Pelita tersenyum. Duduk di sebelahku, merangkul tanganku dan bersandar pada bahuku yang masih berkeringat.
“Aku mengerti. Mengerti dengan semua kekerasan yang ada pada dirimu kakak.”
Aku menghela napas. “Lalu, itu berarti kau tidak akan meminta untuk pergi lagi?”
“Tentu saja tidak. Mengapa kau berpikir aku akan menyerah sebegitu mudahnya?” Pelita tertawa kecil.
“Tidak. Tidak. Hasil akhirnya bagaimanapun juga akan tetap sama, Pelita.” Jawabku ketus.
Dia mengangkat kepalanya, tangannya pelan-pelan menyentuh pipiku, biar bisa mengalihkan padanganku pada koran. Walau sebenarnya aku membuat koran itu hanya sebagai kamuflase belaka. Biar tidak perlu aku melihat matanya yang sedang memelas. Tapi yang kulihat saat itu pada matanya bukanlah pandangan memelas. Melainkan… Pandangan yang tegar.
“Kak, bisakah aku berbicara padamu dulu? Aku akan mengatakannya bila aku sudah selesai berbicara…” Pelita tersenyum dan mengedipkan matanya kepadaku.
“Huh. Silakan saja, tidak akan merubah apa-apa, Pelita.” Tidak. Firasatku menjadi buruk.
“Kak…” Sapa Pelita lembut, sambil menyandarkan kembali kepalanya ke bahuku.
“Masih ingat kah dulu Kak? Bagaimana aroma rumah kita dulu?” Pelita menghela napas.
“Aku tidak akan pernah bisa melupakan aroma rumput yang basah karena embun. Aku juga tidak akan pernah bisa melupakan ketika kita dulu berdua, terperangah melihat matahari yang bangkit diantara gunung-gunung. Masih ingat kan Kak? Ketika itu Ayah dan Ibu mengajak kita ke sawah. Ayah bilang, Ibu juga bilang, kita seperti matahari. Ibu mengatakan kita adalah anak yang kuat. Dulu aku tidak mengerti dengan apa yang Ibu ucapkan. Saat itu aku terlalu asik merasakan sinar matahari yang hangat. Yang mengusir embun beserta aroma rumput yang basah.”
“Dulu cinta begitu banyak. Tidak pernah sedikitpun aku merasakan sendirian. Kau tau kak?”
Aku diam saja. Meletakkan koran, dan membiarkan dia melanjutkan.
“Ayah membuatku hangat, Ayah membuatku kuat, serta berani berharp hanya dengan melihat punggungnya. Ibu membuatku ceria dan penuh rasa. Ibu membuatku mengerti apa itu menyayangi dan arti sebuah pelukan. Pelukan yang membuatmu tegar.”
Posisi kami masih saja sama. Di rumah saat itu hanya kami berdua, istriku masih belum pulang berbelanja. Beberapa saat ke depan juga masih sama, Pelita masih menyenderkan kepalanya ke bahuku. Hanya saja, kini jarinya meremas lenganku lebih kuat.
“Kau tau kakak? Kau juga mengambil bagian.”
“Eh?” Aku terkejut.
“Kau, kakak. Membuatku merasa aman. Membuatku ingin seperti kakak. Apapun yang terjadi, aku ingin seperti kakak.”
“Pelita…” Lirihku bersuara.
“Maka kak, bisakah kali ini kita berbicara tentangku saja?” Aku bisa merasakan getir yang sedang Pelita kecap.
“Sungguh aku tidak ingin jauh darimu Kak. Kau satu-satunya keluarga yang kini aku punya. Ini bukan berarti aku menghilang untuk selamanya. Tidak. Tidak secepat itu.”
“Pelita!” Sontak suaraku meninggi.
“Bisa kan kak? Kali ini saja, kita berdua duduk berbicara tentang apa yang aku inginkan, tentang apa yang bisa kita perbuat. Dan aku perbuat.”
Sigh. Apa yang coba kau katakan Pelita?
“Ki…kita berdua tau kenyataanya… Ini hanya masalah waktu. Apapun yang kita perbuat, tidak akan bisa menyembuhkan aku. Tidak dengan jarum, tidak dengan tablet, atau sirup, atau apapun itu.” Suara Pelita mulai bergetar.
“CUKUP!” Bentakku.
“Dan kau kakak… Terima kasih… Untuk tidak menyerah… Meski kita berdua tau pada hasil akhirnya…” Pelita bicara sambil menahan tangis.
“PELITA!! Apa yang kau harapkan?! Tentu saja, Tentu saja… AKU TIDAK AKAN MENYERAH PADAMU!!” Emosiku meledak, air mataku tanpa izin keluar begitu saja.
“Kakaaak…” Getir Pelita.
Aku diam, bila satu kata saja keluar dari mulutku, aku akan terisak. Napasku yang pendek akan terdengar. Aku… tidak ingin terlihat menangis di depan Pelita.
“Kakak… Itu sudah cukup… Aku… Juga sudah cukup…”
“Apa yang kau pikirkan? Kau tidak bisa menyerah sementara orang lain berharap padamu! Kau tau itu kan, Demitria Pelita!!” Aku marah. Tapi juga sedih.
“Tidak kakak. Aku kini begitu kuat, berkat Ayah… Ibu… Dan kau… Kakak…”
Apa maksudmu Pelita? Apa maksud semua ini?? Pelita, kau BODOH!
“Aku sudah cukup kuat kak. Menerima ini semua…”
“Menerima? Menerima kau bilang!??” Meledakku dibuat Pelita. Tapi tidak berhadapan kami berbicara. Kami masih dalam posisi yang sama.
“Ku mohon kak… Jangan membuat ini menjadi lebih sulit… Aku tidak ingin kelak ketika aku mati, kau masih dalam rasa tidak ingin melepaskanku. Rasa tidak ingin meyerah…”
“Kini semua tentang aku bukan? Aku rasa… Kau juga harus belajar menyerah kakak…” Pelita dan aku menangis begitu saja.
“Cih…. Ba… Bagaimana bisa kau mengharapkan aku menyerah Pelita…!??” Air mataku semakin deras. Mengetahui seseorang akan mati menjadi jauh lebih menyakitkan daripada terkejut karena tiba-tiba orang itu sudah mati. Mungkin itu mengapa Tuhan mencoba menyimpan rahasia kematian rapat-rapat.
“Kini kak… Aku hanya ingin… Hanya ingin menulis saja… Tapi tidak bisa ku lakukan di tempat seperti ini…. Tidak dengan semua pengobatan-pengobatan itu… Imajinasiku kontan menjadi tumpul…” Rintih Pelita.
“Maka kak, biarkan aku pergi… Toh aku belum akan mati kak… Tidak sebelum kau mengerti…”
Aku ingin membantah, tapi suaraku tersedak. Terlalu penuh dengan rasa sedih dan perih yang menyayat hingga tenggorokan.
“Kini yang menjadi pembeda hanyalah…. Apa yang aku lakukan… Sebelum saat itu tiba… Bisa saja aku berbaring lemas… Atau… Aku bisa saja menulis.” Lanjut Pelita.
“Maka biarkan aku ikut denganmu…” Balasku.
Pelita tersenyum, kini dia berani menatap mataku. Aku pun begitu. Pipi kami berdua basah. Bibir kami berdua dengan mudahnya bergetar.
“Tidak. Kau tau aku tidak akan membiarkannya. Kau tau, kau punya kehidupanmu sendiri, Kak…” Senyum Pelita.
Bodoh!! Bodoh!!! BODOH!!! Mengapa saat itu aku mengiyakannya??
Aku mencoba secepat mungkin sampai pada tempat Pelita. Disana sudah ada Wanda yang menemaninya selama ini. Pada keesokan harinya setelah malam itu, Pelita pergi jua, dia ingin menyelesaikan roman terakhirnya.
Hari ini, beberapa jam yang lalu, Pelita menelponku dengan suara yang lemas.
“Kak…” Sapa Pelita.
”Pelita?”
“Apa kabar kak…?” Tanyanya lemah.
“Baik… Kau? Apa kabar…?”
Senyap… Tidak ada suara terdengar selain napas Pelita yang pendek.
“Aku… Aku rasa… Hari ini kak…” Rintih Pelita.
“Apa…?” Tanyaku heran.
“Aku akan mati hari ini kak…” Jawab Pelita.
“Apa yang kau bicarakan Pelita!” Aku terkejut. Keringatku keluar dengan cepat.
“Kaakk… Bisa kah kau menolongku kak…?” Suara Pelita semakin lemah di telepon.
“Diam kau Pelita! Aku akan ke sana sekarang!” Bentakku keras.
“Kaakk…. Jangan matikan teleponnya…” Balas Pelita.
Aku diam… Bukan tidak ingin menjawab. Tapi tubuhku bergetar dengan begitu kuat. Bagaimana bisa, aku yang begitu kuat, tapi mejadi lemah ketika mendengar suara Pelita yang begitu jauh, begitu lemas. Bisa ku dengar suara burung, air, bahkan suara semilir angin sesekali muncul. Aku ingin bicara, tapi tersedak.
“Kak…?” Tanya Pelita.
“Hehmm.” Ujarku mengiyakan, dengan tangan yang menutupi mulut.
“Kau mendengarkan kan…?” Tanya Pelita sekali lagi.
“Hehmm.” Pelitaaa!!!
“Bisa kah kak? Kali ini… Kau menyerah?” Isak Pelita.
“Biar… Aku juga… Tenang…” Lanjutnya lagi.
Aku langsung mematikan telepon saat itu juga. Berangkat tanpa membawa apa-apa. Pelita, kau begitu bodoh!
Ini tikungan terakhir. Sampai pada rumah Wanda, di mana Pelita tinggal. Aku bergegas tanpa mematikan mobil, tanpa menutup kembali pintu mobil, berlari masuk ke rumah dengan pintu yang sudah terbuka. Sampai di dalam, aku melihat Pelita. Pelita dengan tubuh yang membengkak dimana-mana. Bahkan wajahnya membentuk bulatan sempurna. Lupus sudah menggerogotinya. Hanya ada Wanda dan beberapa orang lainnya di situ.
Dengan wajah penuh air mata, Wanda menghampiriku, memberikanku naskah terakhir dari Pelita.
“Sampai detik terakhir… Dia menunggumu menelponnya… Untuk… Mendengar…” Wanda Terisak.
“Kata menyerah dan merelakan darimu… Pelita berjuang keras…” Wanda menangis sejadinya.
Apa? Apa yang kau bicarakan Wanda?!
Aku bersumpah!
Aku bersumpah beberapa saat yang lalu aku mendengar Pelita memanggilku!
Aku bersumpah, aku melihat kepalanya menoleh ke arahku!
Aku bersumpah, aku benar-benar bersumpah!
Lantas, mengapa orang-orang berengsek ini menutupi wajah Pelita?!
Pelita belum mati!!
Belum!!!
PELITAAA!!!
Mengapa Pelita? Mengapa? Kau bersikeras melewati ini sendirian?? Padahal… Aku ada?